Bamsoet: Indonesia Bukan Negara Sekuler, Bukan Juga Negara Agama

Bamsoet: Indonesia Bukan Negara Sekuler, Bukan Juga Negara Agama
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo alias Bamsoet. Foto: Humas MPR RI

Sejalan dengan Bamsoet, Sheikh Mohammed bin Abdulkarim Al Issa juga menekankan bahwa keberagaman adalah sunnatullah. Baginya, ketidakmampuan sebagian kalangan mengambil hikmah atas perbedaan, tidak terlepas dari kondisi ekonomi dan pendidikan yang menyelimutinya. Sehingga banyak yang salah pandang dan paham serta cenderung mengedepankan permusuhan.

"H.E. Mr.  Sheikh Mohammed bin Abdulkarim Al Issa juga mengapresiasi moderasi Islam yang hidup di Indonesia. Baginya, keharmonisan yang ditampilkan kehidupan beragama di Indonesia menjadi inspirasi bagi dunia," kata Bamsoet.

Bamsoet maupun Sheikh Mohammed menekankan bahwa persoalan umat manusia saat ini bukanlah perbedaan agama. Melainkan krisis kemanusiaan, krisis iklim, krisis lingkungan, krisis nuklir, krisis ekonomi global, dan ancaman krisis lainnya.

"Atas dasar itu jugalah, MPR RI menginisiasi pembentukan Majelis Syura se-Dunia sebagai pembaruan strategi meningkatkan hubungan kerja sama antarlembaga negara pembuat konstitusi dalam satu wadah organisasi internasional. Sehingga bisa semakin menguatkan kontribusi dalam menyelesaikan persoalan umat dan persoalan global, yaitu menciptakan perdamaian dan keamanan bagi keberlangsungan hidup manusia," pungkas Bamsoet.(ikl/boy/jpnn)

Bangsa Indonesia memiliki Pancasila yang mempertemukan berbagai perbedaan menjadi satu keharmonisan. Sejarah juga mencatat bahwa lahirnya Indonesia tidak terlepas dari peran berbagai suku dan agama.


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News