JPNN.com

Belajar dari Dakwah Sunan Giri, Merangkul Bukan Memukul

Selasa, 04 Mei 2021 – 23:48 WIB
Belajar dari Dakwah Sunan Giri, Merangkul Bukan Memukul - JPNN.com
Sejarawan Santri Zainul Milal Bizawi bersama Sekretaris BKNP PDIP Rano Karno dalam acara Ngabuburit Bersama Badan Kebudayaan Nasional Pusat PDI Perjuangan BKNP pada Selasa (4/5). Foto: tangkapan layar akun BKNP PDIP di YouTube

jpnn.com, JAKARTA - Sejarawan Santri Zainul Milal Bizawi mengharapkan umat Islam Indonesia sebaiknya belajar dari keteladanan salah satu Wali Sanga Sunan Giri.

Menurut dia, Sunan Giri berdakwah dengan cara merangkul bukan memukul.

Hal itu diungkapkan Zainul saat mengisi acara Ngabuburit Bersama Badan Kebudayaan Nasional Pusat PDI Perjuangan BKNP PDIP, Selasa (4/5).

Acara yang ditayangkan jelang berbuka puasa itu mengambil tema ‘Dakwah Kultural Sunan Giri, Merangkul Bukan Memukul’. Hadir juga Sekretaris BKNP PDIP Rano Karno.

Zainul menjelaskan Sunan Giri memiliki peranan penting dalam pengembangan dakwah Islam di nusantara, dengan memanfaatkan kekuasaan dan jalur perniagaan.

Ketika wali sanga yang lain tidak dekat dengan kekuasaan, kondisi berbeda pada Sunan Giri. Sebab, beliau adalah keturunan trah Brawijaya.

Namun, walau memiliki akses pada kekuasaan, Sunan Giri justru tak memanfaatkan kondisi itu untuk menghilangkan tradisi Hindu.

"Justru beliau biarkan saja, dirangkul pelan-pelan, kemudian disisipi nilai-nilai Keislaman,” jelas Zainul.

Kedudukannya sebagai penguasa menjadikannya begitu mudah dalam merangkul semua kalangan.

Sunan Giri bisa memahami kondisi sosial politik saat itu dan digunakan untuk melakukan dakwah.

“Sunan Giri ini sangat cerdas sekali, meskipun secara kedudukan ia berdomisili di Giri, tetapi penyebarannya begitu luas, sampai Lombok, Kalimantan, dan bahkan sampai ke Minangkabau,” jelas Zainul.

Sunan Giri juga mengembangkan sistem pendidikan berbasis pesantren pada masanya.

Dalam dakwahnya, Sunan Giri menggunakan pendekatan kultural. Misalnya dengan menciptakan beberapa tembang dan permainan untuk anak-anak.

Salah satu yang cukup dikenal adalah cublak-cublak suweng.

Zainul menyatakan permainan itu memiliki makna mengajarkan manusia tidak menuruti hawa nafsu dan keserakahan dalam mencari harta atau kebahagiaan.

“Sunan Giri menggunakan model akulturasi dengan memanfaatkan kekuasaanya yang juga merangkul masyarakat biasa dengan kesenian," ulas dia.

Baginya, kisah Sunan Giri tersebut juga menyiratkan betapa pentingnya untuk membuka lagi buku-buku sejarah yang bercerita tentang budaya yang sudah ada dan berkembang. Sehingga kelestarian budaya nusantara tetap terjaga.

Zainul berharap jangan sampai anak bangsa saat ini menghancurkan kebudayaan adiluhung itu.

Tradisi yang sudah ada sebaiknya dijaga dan bukan dianggap syirik.

“Bung Karno pernah mengatakan untuk bertuhan dengan kebudayaan. Artinya, kami harus menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan juga toleransi,” pungkas Zainul. (tan/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...