Bisikan Warga Malaysia: Kami Ingin Najib Tumbang

Bisikan Warga Malaysia: Kami Ingin Najib Tumbang
PM Najib Razak. Foto: AFP

”Jangan lupa besok mengundi ya,” kata Lim Kiang Eng, sopir Grab yang Jawa Pos tumpangi, Selasa (8/5).

Pria 40 tahun itu kemudian mengatakan bahwa dia tidak akan menyia-nyiakan hari pemungutan suara. Dia juga yakin, penduduk Kuala Lumpur akan menggunakan hak pilih mereka.

PRU 14 memang istimewa. Wajar jika gaungnya berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Syafii Anwar, dosen asal Indonesia yang mengajar di Universiti Utara Malaysia (UUM) Kedah, mengatakan bahwa kali ini kampanye nyaris tidak diwarnai arak-arakan. Setidaknya, itu yang tergambar di Kedah.

”PRU 13 pada 2013 lalu saya juga sudah ada di sini (Kedah). Saat itu, ramai arak-arakan BN di sini,” katanya melalui sambungan telepon.

Kini, zaman sudah berganti. Kampanye bisa menjadi jauh lebih efektif jika disampaikan di dunia maya. Tepatnya, sosial media. Satu isu dilempar, puluhan bahkan ratusan netizen akan menyahut.

Maka, tidak heran jika media-media Malaysia menyebut gaya kampanye PRU 14 kali ini sebagai kampanye WhatsApp. Di Malaysia, WhatsApp menjadi media kedua yang paling banyak digunakan untuk kampanye setelah Facebook.

Publik Malaysia bisa saja adem ayem di dunia nyata. Mereka pelit bicara politik. Tapi, di dunia maya, PRU 14 menjadi topik panas. Netizen ramai membahas percaturan politik, indikasi kecurangan bahkan prediksi pemenang.

Sama ramainya dengan jalanan Kuala Lumpur yang berhias atribut berbagai partai. Biru muda dan merah, biru tua dengan gambar timbangan, hijau dengan bulatan putih di tengah atau bendera merah bertulisan Pakatan Harapan.

Warga Malaysia mengungkapkan perasaan mereka jelang pemilihan umum. Meski hanya berani berbisik, mereka tegas menyatakan ingin Najib tumbang

Sumber Jawa Pos

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News