JPNN.com

Buka Mata Kuliah Big Data, Kemenristekdikti Gandeng 20 PTN - PTS

Kamis, 11 April 2019 – 21:45 WIB Buka Mata Kuliah Big Data, Kemenristekdikti Gandeng 20 PTN - PTS - JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) akan meluncurkan mata kuliah big data pada September mendatang. Mata kuliah ini diberikan dalam bentuk pendidikan jarak jauh (PJJ) di bawah kendali langsung Kemenristekdikti.

Menurut Direktur Pembelajaran pada Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Paristiyanti Nurwardani, nantinya yang akan terlibat dalam mata kuliah daring Big Data adalah dosen-dosen pilihan dari perguruan tinggi negeri maupun swasta yang terakreditasi A. Selain Big Data, ada tiga mata kuliah lainnya yang juga diberikan salah satunya Coding.

"Jadi nanti mata kuliah ini akan diberikan oleh dosen-dosen dari PTN/PTS terakreditasi A. Pelaksanaannya 16 kali pertemuan. Pertemuan pertama dimulai dengan Menristekdi, kemudian dosen dari ITB atau Universitas Atmajaya atau lainnya. Nanti satu dosen itu bisa memiliki ratusan ribu mahasiswa se Indonesia," beber Paris, sapaan karib Paristiyanti di sela-sela seminar Open Education Resources di Jakarta, Kamis (11/4).

Untuk tahap awal, lanjutnya, target mahasiswa yang akan direkrut adalah 100 ribu orang. Pendaftaran lewat sistem online. Sedangkan metode pembelajaran menggunakan live streaming dan akan disebar lewat YouTube.

"Bagi mahasiswa yang mengikuti kuliah daring selama 16 kali akan mendapatkan nilai SKS ditambah sertifikat. Ini sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan APK (angka partisipasi kasar) juga," ucapnya.

Pada pembukaan seminar, Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Ismunandar mengungkapkan, saat ini APK Indonesia baru di angka 35 persen. Dalam lima tahun ke depan, Kemenristekdikti menargetkan APK menjadi 50 persen.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggenjot pendidikan daring. Di Korea, sudah melakukannya dengan perbandingan dosen dan mahasiswa, 1:200. Indonesia bisa melakukannya dengan memperbaiki infrastruktur serta meningkatkan kemampuan dosennya.

"Jangan dikira PJJ itu gampang. Pendidikan daring itu lebih sulit daripada konvensional. Karena satu dosen harus aktif melayani ratusan mahasiswanya lewat grup WhatsApp dan lainnya. Tinggal kemauan kita sekarang mau tidak menjalankan PJJ baik blanded learning atau full online," tandasnya. (esy/jpnn)

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...