Cawe-Cawe di Pilpres

Oleh Dhimam Abror Djuraid

Cawe-Cawe di Pilpres
Presiden Joko Widodo dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kanan) pada pertemuan bilateral di Istana Kepresidenan Turki di Ankara pada Juli 2017. Foto: Setpres RI

jpnn.com - ISU cawe-cawe dalam pemilihan presiden atau pilpres sedang ramai menjadi perbincangan di Indonesia.

Cawe-cawe merupakan istilah dari Bahasa Jawa yang artinya intervensi oleh pihak yang mempunyai kekuasaan terhadap sebuah urusan demi mempertahankan kekuasaannya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang akan segera mengakhiri masa jabatannya diduga melakukan cawe-cawe dengan meng-endorse salah satu -atau malah salah dua- bakal calon presiden pilihannya.

Cawe-cawe dalam pilpres tidak hanya terjadi di Indonesia. Isu yang sama terjadi di Turki yang pekan lalu (15/5) menyelenggarakan pilpres.

Dua kandidat bersaing ketat, yaitu Recep Tayyip Erdogan sebagai petahana dan Kemal K?l?cdaroglu. Keduanya bersaing ketat neck to neck alias leher melawan leher sampai akhir penghitungan suara.

Erdogan akhirnya memenangkan persaingan dengan perolehan suara 49,86 persen suara, sementara Kilicdaroglu mengumpulkan 44,38 persen suara.

Calon ketiga, Sinan Ogan, mengumpulkan 5,17 persen suara. Kendati Erdogan menang, pilpres akan digelar dua putaran karena tidak ada kandidat yang melewati ambang batas 50 persen seperti ketentuan undang-undang.

Putaran kedua akan diselenggarakan pada 28 Mei 2023. Erdogan sebagai petahana justru menjadi underdog karena selisihnya yang tipis dari pesaing terdekatnya. Dengan margin yang tipis itu, limpahan suara dari kandidat ketiga yang tesisih akan sangat menentukan.

Pilpres Turki tidak sama dengan di Indonesia, tetapi cawe-cawe kekuatan besar terhadap calon yang tidak dikehendati tampaknya terjadi di Turki maupun Indonesia.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News