Cerita Shinta, Perawat Pasien Corona: Takut, Tidak Bisa Tidur

Cerita Shinta, Perawat Pasien Corona: Takut, Tidak Bisa Tidur
Shinta Aprilia mengenakan APD. Foto: Antara/Shinta

"Saya juga tidak mungkin kembali ke rumah karena anak saya masih kecil dan bapak saya lansia. Saya takut pulang biar mereka sehat," ujarnya.

Tak hanya Shinta yang meninggalkan keluarga, teman-temannya yang ditunjuk untuk melayani pasien COVID-19 ini juga rela meninggalkan keluarga, jangan sampai keluarganya terpapar virus yang kecil tak telihat namun mematikan ini.

"Teman-teman saya juga meninggalkan keluarga, keponakan, dan orang tua. Mereka juga tinggal di asrama untuk melayani pasien yang terjangkit virus Corona ini," ujarnya.

Komunikasi dengan keluarga juga jarang dilakukan karena telepon seluler harus ditinggal di asrama selama mendapat tugas melayani pasien COVID-19.

Keluarga bisa dihubungi di rumah sakit, apabila darurat dan sangat mendesak dengan menggunakan telepon seluler yang disediakan pihak rumah sakit untuk komunikasi dengan pasien.

Peluang berkomunikasi dengan keluarga hanya bisa dilakukan secara leluasa jika sudah selesai menangani pasien corona dan pulang ke asrama. Separuh rasa rindu bercampur kangen hanya bisa tersalurkan melalui video call dengan anak dan sang ayah di layar kaca.

"Sering kami video call pada saat lepas dinas. Karena tidak bisa menggunakan handphone di ruang isolasi. Handphone semua perawat ditaruh di asrama. Kecuali sangat mendesak, dipakai handphone yang ada di ruang isolasi untuk menelepon keluarga," tutupnya. (antara/jpnn)

Shinta Aprilia salah satu perawat perempuan di RSUD Jayapura yang merawat dan mengobati pasien terpapar virus Corona.


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News