JPNN.com

Covid-19 Dalam Pandangan Agama

Oleh: Prof. DR. KH. Said Aqil Siroj, MA

Selasa, 31 Maret 2020 – 02:00 WIB Covid-19 Dalam Pandangan Agama - JPNN.com
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof. DR. KH. Said Aqil Siroj, MA. Foto: Dok. Humas PBNU

jpnn.com - Novel Corona Virus (Covid-19) ujian kemanusiaan, yang bermula di China, merebak ke Eropa dan Amerika, dan tak luput juga Indonesia.

Tenaga medis dan ahli obat-obatan seluruh dunia berjuang keras menemukan solusi, pencegahan, dan penghentian penyakit baru tersebut. Juga kaum agamawan tiada henti memohon pada Tuhan agar ujian berat ini segera dituntaskan.

Ilmuan dan agamawan dua golongan yang saling melengkapi. Yang pertama beramal untuk memahami ciptaan Tuhan, dan yang terakhir beramal untuk mencari hubungan ciptaan dengan Sang Pencipta.

Ilmuan membahas kosmos yang paling besar hingga virus yang sangat kecil semacam Covid-19 ini. Agamawan membantu pikiran dan perasaan manusia yang halus-lembut untuk tetap terhubung dengan Dzat Maha Lembut (al-Halim) lagi Maha Halus (al-Lathif).

Perbedaan ilmuan dan agamawan pun sedikit. Sebagian ilmuan hanya fokus pada objek risetnya dan abai pada apa di balik objeknya sebagai ciptaan. Sebagian lagi tidak saja fokus pada objek penelitiannya, melainkan juga beriman pada yang gaib di balik cara kerja semesta alam ini.

Golongan terakhir ini disebut ilmuan yang beriman. Dalam menangani virus Covid-19, ilmuan beriman berikhtiar mencari vaksin sekaligus bertawakal pada Tuhan agar diberi keselamatan di luar daya upaya manusia sendiri.

Agamawan dalam tataran manhajul fikr (metodologi berpikir) sejalan dengan ilmuan beriman, hanya berbeda porsi pada urusan spesifikasi keahlian. Ilmuan lebih dominan kajian sainstifiknya, agamawan lebih fokus pada detail dimensi ilahiah atau ketuhanannya. Covid-19 bagi agamawan harus dituntaskan dengan cara-cara ilmiah, melalui metode yang disarankan paramedis, tetapi ketakwaan dan keimanan pada Tuhan harus diperbanyak porsinya.

Persamaan manhajul fikr ilmuan beriman dan agamawan ini berangkat dari keutuhan memandang hidup, wujud, being. Agamawan, khususnya kaum Sufi, memandang bahwa segala selain Allah tidak ada (non-eksistensi). Bila keyakinan ini dipegang teguh maka disebut fana’. Segala selain Allah adalah ciptaan Allah dan penampakan jejak-jejak kehendak dan kekuasaan Allah, atau tajalliyat qudroh wa irodah ilahiah.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
fri