Cyber Diplomacy: Menjaga Negara via Dunia Maya

Oleh Prof. Dr. Kamaluddin, M.Pd*

Cyber Diplomacy: Menjaga Negara via Dunia Maya
Prof. Dr. Kamaluddin, M.Pd. Foto: dokumentasi pribadi

jpnn.com - Perang antara Rusia versus Ukraina -dengan dukungan NATO- sudah berlangsung satu tahun lebih. Hingga kini, belum ada tanda-tanda konfrontasi yang dimulai pada 20 Februari 2022 itu akan mereda dalam waktu dekat, bahkan kedua belah pihak terus melancarkan serangan untuk saling mengalahkan.

Indonesia sebagai kekuatan penting di barisan Kerja Sama Selatan-Selatan sejak awal telah menunjukkan sikapnya atas situasi tersebut.

Saat perang Rusia vs Ukraina masih di awal konflik, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi Moscow dan Kiev untuk menyampaikan pesan perdamaian.

Lawatan Presiden Jokowi ke kedua negara yang sedang berperang itu tentu saja penuh risiko. Itu juga tercatat sebagai kunjungan pertama pemimpin dunia ke war zone tersebut.

Tidak jelas benar pihak mana yang berhasil menekan musuh sampai hari ini. Satu yang pasti, kedua negara menggunakan internet dan social media atau medsos sebagai media propaganda untuk mengeklaim “kemenangan” masing-masing.

Rusia yang mendapat sanksi berlipat dari Barat, memanfaatkan plalform medsosnya, Telegram, untuk menyebarkan berbagai video tentang gerak maju pasukannya menghancurkan kota-kota di Ukraina.

Baca Juga:

Tidak hanya itu, Moscow juga “menyewa” para “juru bicara” di banyak negara guna mengamplifikasi kepentingan Presiden Rusia Vladimir Putin dengan menggunakan bahasa lokal.

Di Indonesia, propaganda Kremlin terasa setidaknya melalui sejumlah akun di X (Twitter) yang setiap hari mengunggah potongan video dari garis depan.

Netizen Indonesia yang dikenal solid (meski terkadang tidak sopan) harus dioptimalkan menjadi cyber army yang kuat untuk mewarnai opini global.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News