Delta Qiscus

Oleh: Dahlan Iskan

Delta Qiscus
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

Startup pertama itu gagal.

Dari situ Delta belajar: belum tentu sebuah ide yang dianggap bagus cocok dengan pasar. Kadang pemilik ide sangat egois: pasar itu dikira seperti dirinya atau seperti yang dipikirkannya.

Sebagai pengguna WA, Delta pun terpikir apa saja yang bisa dimanfaatkan dari WA. Tahun 2015 lahirlah qiscus. Satu orang anggota timnya mengundurkan diri. Maka pendiri qiscus tiga orang sisanya: Delta Purna Widyangga sebagai CEO, Muhammad Md. Rahim (COO), dan Evan Purnama (CTO). Yang Rahim itu yang warga Singapura.

Kini Delta berbinar ketika menceritakan kemajuan usahanya dari Jogja nan istimewa. Kini Delta juga meluncurkan kredo baru: qiscus omnichannel. Ia akan berkembang ke channel apa saja.

Kemarin Delta ke Surabaya. Saya ajak podcast. Ia mengaku berjiwa introvert. Tetapi rupanya ia lupa kalau dirinya sudah berubah. Bicaranya ternyata lancar, cukup ekspresif, dan runtut.

Tekanan-tekanan kesulitan dalam hidupnya terlihat sudah mengubah jiwa, sikap, dan penampilannya. Kesulitan memang bisa mengubah siapa saja. Juga bisa mengubah arah perjalanan seseorang: bisa menuju ke restoran, bisa juga menuju ke kuburan.

Wajah Delta yang imut menandakan ia sudah keluar dari tekanan hidup yang paling sulit. Ia beruntung mendapat tekanan kematian ketika masih sangat muda. Ia kuat. Tekanan itu tidak sampai membuat wajahnya berkerut dan menjadi lebih tua dari umurnya.

Maka carilah tekanan hidup ketika masih muda. Carilah tekanan yang benar-benar mengancam kematian Anda. Itu baru cocok untuk anak muda. Percayalah itu tidak akan membuat Anda benar-benar mati.

Kini Delta bukan lagi bisa hidup, justru hidupnya menyala-nyala. Dari Jogja berkembang ke 19 negara. Karyawannya sudah 130 orang.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News