Demi Pilpres, Jokowi Ogah Ganti Airlangga

Demi Pilpres, Jokowi Ogah Ganti Airlangga
Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto pada pembukaan Munaslub Golkar di JCC, Senin (18/12) malam. Foto: Jawa Pos

Selain politik, lanjut dia, faktor kinerja tentunya juga menjadi pertimbangan Presiden Jokowi. Buktinya, ungkap dia, selama menjabat menteri, sangat jarang sekali ada kritik soal kinerja Airlangga.

"Itu membuktikkan bahwa kinerja Airlangga Hartarto sangat memuaskan," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, jika memaksakan ada reshuffle belum tentu akan produktif. Waktu efektif kabinet tinggal satu tahun enam bulan. Kalau ada menteri baru yang tidak paham dunia industri maka akan banyak belajar atau penyesuaian sehingga tidak bekerja efektif memimpin kementerian.

Selain itu Airlangga memang sangat paham dunia industri. Sejak lulus sarjana 1986, Airlangga sudah masuk dunia industri dengan jaringan internasional. Airlangga memiliki puluhan perusahaan dan punya gagasan tentang industrialisasi di Indonesia.

Bedanya dengan Khofifah yang mundur adalah karena harus full time di lapangan atau daerah untuk berkampanye pemenangan dirinya yang tidak mungkin disambi sebagai menteri.

Kalau sebagai ketum partai, masih bisa dikerjakan secara bergantian dengan tugasnya sebagai menteri.

"Karena lokasi di Jakarta dan tugas-tugas partai bisa didelegasikan ke bawahan atau pengurus," paparnya.

Faktor terakhir adalah soal loyalitas. Menurut dia, sejak menyatakan komitmennya sebagai partai pendukung pemerintah, Golkar hingga kini tetap berkomitmen menjaga loyalitas. Apa pun kebijakan pemerintah selalu didukung total. Berbeda dengan PAN, lanjut Sya'roni, meskipun sudah menyatakan sebagai partai pendukung pemerintah dan mendapatkan jatah menteri, kerap berlawanan dengan kebijakan pemerintah.

Keputusan presiden untuk tidak mengganti Airlangga harus dilihat sebagai indikasi bahwa Jokowi sedang mempersiapkan diri menghadapi Pemilu 2019

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News