Dilindas Gentrifikasi, Seniman Berlin di Ambang Kepunahan

Dilindas Gentrifikasi, Seniman Berlin di Ambang Kepunahan
Seniman-seniman Berlin ini terancam kehilangan studio mereka karena harga properti yang melonjak tinggi di ibu kota Jerman itu. Foto: AFP

jpnn.com, BERLIN - Makam kecil di luar gedung pusat budaya Treptow Ateliers, Berlin, Jerman, itu terlihat suram. Tak ada nama di nisan berbentuk salib yang terbuat dari kayu-kayu tua tersebut. Justru yang terukir adalah tulisan Dibongkar 2019 dalam bahasa Jerman maupun Inggris.

Meski terlihat angker, itu memang bukan makam sungguhan. Melainkan seni instalasi yang dibuat seniman Martin Frese dan kawan-kawannya. "Ini adalah instalasi untuk menarik perhatian tentang apa yang sedang terjadi di sini," ujar pelukis Lydia Paasche seperti dikutip Agence Prance-Presse.

Frese, Paasche, dan para seniman lainnya sedang resah. Treptow Ateliers yang sejak 2013 mereka sewa kini bakal dibongkar. Sekitar 30 seniman yang memiliki studio di gedung tersebut sudah mendapatkan surat peringatan. Mereka diminta untuk pergi paling lambat Maret 2020. Treptow Ateliers akan dibongkar dan diganti dengan gedung multifungsi lima lantai. 

Para seniman itu tentu bukan satu-satunya korban. Gedung pusat seni seperti Ta cheles sudah rata dengan tanah sejak 2012 lalu. Di lokasi itu akan dibangun apartemen mewah dan hotel. Separo di antara 8.000 seniman di Berlin yakin bahwa studio seni mereka akan digusur dalam waktu dekat.

Sebagian besar seniman di Berlin menjadi korban gentrifikasi. Orang-orang kaya dari wilayah Jerman yang lain serta mereka yang berasal dari luar negeri ingin membeli properti di Berlin. Harga properti jadi meroket tajam.

Pada 2017, harga properti naik 20,5 persen. Itu adalah kenaikan tercepat jika dibandingkan dengan kota mana pun di seluruh dunia.

Dulu Berlin tak pernah menjadi magnet bagi para investor properti. Harga sewa bangunan di sana sangat murah. Seniman mulai memadati ibu kota setelah tembok Berlin dirobohkan pada 1989. Mereka mengambil alih gedung-gedung kosong dan pabrik yang tidak terpakai.

Berlin pun menjadi pusat budaya dan seni di Jerman dan penjuru dunia. Kota tersebut bahkan dijuluki sebagai Makkah-nya seniman.

Kenaikan nilai properti di Berlin meningkat tajam. Imbasnya, para seniman terusir

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News