Senin, 19 Agustus 2019 – 21:58 WIB

Dita Indah Sari Nilai Tekad Presiden Jokowi Sudah Tepat

Selasa, 23 Juli 2019 – 05:25 WIB
Dita Indah Sari Nilai Tekad Presiden Jokowi Sudah Tepat - JPNN.COM

jpnn.com, JAKARTA - Tekad presiden terpilih Joko Widodo untuk fokus pada peningkatan sumber daya manusia (SDM) di periode kedua nanti sudah tepat. Sebab, 42,2 persen dari 131 juta angkatan kerja kita hanya lulusan Sekolah Dasar (SD). Mayoritas mereka bekerja di sektor pertanian dan perikanan serta konstruksi.

"Bayangkan, menurut data BPS ini ada 55 jutaan orang yang sekolahnya hanya sampai SD, bahkan tidak tamat. Tidak heran tingkat literasi anak-anak kita di bawah rata-rata 72 negara lain. Jangan tanya lagi soal kemampuan sains dan matematika. Wong kemampuan baca saja rendah, walaupun tidak buta huruf. Kalau negara tidak intervensi habis-habisan melatih mereka, semua harapan revolusi digital 4.0 dan sejenisnya ya susah kesampaian,” kata Wakil Sekretaris Jenderal DPP PKB Dita Indah Sari kepada wartawan di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Dita, tekad ini harus diikuti dengan penataan kelembagaan, perencanaan kebutuhan tenaga kerja dan pelibatan secara penuh dunia usaha sebagai pengguna. Percuma mahal-mahal keluar uang buat melatih, kalau pada akhirnya tidak diserap industri karena keterampilannya tidak cocok. Belum lagi menurut kalangan dunia usaha 50-70 persen lulusan S1 tidak siap kerja.

“Menurut saya menjadi kebutuhan nasional untuk dibentuk semacam Dewan Vokasi Nasional, sebuah lembaga pemerintah non-departemen. Fungsi utamanya adalah mengatur seluruh perencanaan kebutuhan tenaga kerja. Profesi apa saja yang dibutuhkan, berapa jumlahnya, kapan, di mana, bagaimana jenis kompetensinya, bagaimana sertifikasinya, dan lain-lainnya,” katanya.

Masih menurut Dita, ide ini bukan latah atau asal-asalan. Selama ini banyak kementerian punya anggaran pelatihan sendiri, punya Balai Latihan sendiri. Namun perencanaan penggunaan anggaran itu tergantung keinginan masing-masing kementerian saja, bukan hasil dari perencanaan kebutuhan bersama yang terpadu.

Menurutnya, Dewan atau Badan Vokasi ini tidak mengelola anggaran pelatihan. Anggaran itu bisa tetap di kementerian masing-masing. Namun alokasinya harus sesuai dengan kebutuhan nasional yang direncanakan secara terpadu. Jangan sampai yang dibutuhkan pengguna apa, yang dilatih apa.

“Dewan Vokasi juga full melibatkan para dunia usaha dalam perencanaan dan eksekusinya,” katanya.

"Jadi tekad Presiden Jokowi perlu dicarikan pola koordinasi yang pas, melalui Dewan Vokasi. Dan badan ini nantinya ada di bawah koordinasi Menko Perekonomian, bukan Menko PMK. Kenapa? Karena soal kompetensi SDM adalah soal employment, soal lapangan kerja, soal produktivitas. Masalah sosial itu eksesnya saja," tegas Dita.(fri/jpnn)

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar