DPD : Semakin Jarang Pemimpin Yang Negarawan

DPD : Semakin Jarang Pemimpin Yang Negarawan
DPD : Semakin Jarang Pemimpin Yang Negarawan
Bambang menyebut nilai - nilai Pancasila semakin jauh ditinggalkan dalam praktek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. "Praktek kekerasan dan radikalisme atas nama agama menggambarkan dengan jelas betapa prinsip ketuhanan yang maha esa belum dimaknai secara jernih dan tulus," ungkapnya.

Pembicara lain, Direktur Reform Institute Yudi Latief mengatakan dulu negara mengajarkan Pancasila secara top down. "Seolah yang berkepentingan dengan Pancasila hanya negara dan para pejabat negara itu yang paling mengerti Pancasila atau pancasialis," sindir Yudi.

Pendekatan vertikal ini, menurut Yudi, berakibat fatal. Ketika sejarah membuktikan bahwa antara ucapan dan tindakan pejabat negara sering tidak konsisten, publik berduyun -duyun menyalahkan dan memandang sinis terhadap Pancasila. "Padahal yang salah cara mengakarkan Pancasila itu," katanya.

Agar kembali menjadi mainstream di tengah masyarakat, Yudi menyebut Pancasila harus diradikalisasi. "Bukan saja NII dan terorisme yang radikal. Pancasila juga harus radikal. Kalau tidak Pancasila akan seperti angin yang gampang disisihkan ideologi lain," ujar intelektual muda dari Universitas Paramadina, itu.

JAKARTA - Kalangan senator penghuni kamar Dewan Perwakilan Daerah (DPD) prihatin dengan kualitas para pemimpin bangsa sekarang. Mereka menilai degradasi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News