Kamis, 20 Juni 2019 – 22:16 WIB

Dunia Perbankan Indonesia Masih Baik

Rabu, 15 Desember 2010 – 15:38 WIB
Dunia Perbankan Indonesia Masih Baik - JPNN.COM

JAKARTA - Perekonomian Indonesia dinilai sudah meninggalkan masa kelam. Banking Pressure Index (BPI) yang menjadi salah satu sistem peringatan dini (early warning system) untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya krisis perbankan di suatu negara, menunjukkan bahwa perbankan Indonesia saat ini berada dalam kondisi sehat.

Kepada wartawan dalam bincang ekonomi di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (15/12), ekonom dari Danareksa Research Institute, Purbaya yudhi Sadewa mengungkapkan, sistem perbankan Indonesia sedang berada dalam kondisi kondusif, seiring dengan perbaikan kondisi perekonomian, penurunan suku bunga dan penguatan nilai tukar rupiah. Hal ini pun tercermin dalam keadaan makro ekonomi Indonesia yang sehat.

"Keadaan ekonomi dunia yang terus membaik, membuat pasar kita amat menarik untuk investor. Kinerja saham kita termasuk yang terbaik di dunia, dan kenaikan yang terjadi di bursa bukan karena bubble, melainkan karrena kondisi fundamental perekonomian kita," ungkap Purbaya.

Turnover value atau nilai pergantian di pasar saham Indonesia, tutur Purbaya, juga mengalami peningkatan yang luar biasa. Di mana jika pada tahun 2005, turnover harian baru mencapai Rp 1,67 triliun, maka pada tahun 2010 sudah mencapai sekitar Rp 4,5 triliun. Ini katanya, menggambarkan bahwa pasar Indonesia semakin menjadi daya tarik bagi investor.

Masih menurut Purbaya, kenaikan harga saham yang signifikan di bursa, juga telah meningkatkan market cap dengan signifikan. Pada tahun 2009, total market bursa (IHSG) baru sekitar Rp 2.000 triliun. Namun sampai dengan Oktober (2010) lalu, market cap bursa Indonesia sudah naik mencapai Rp 3.000 triliun.

Namun memang, kata Purbaya pula, bila dibandingkan dengan ukuran ekonomi, maka kapitalisasi pasar Indonesia masih jauh lebih kecil. Di mana rasio market capt terhadap PDB Indonesia pada tahun 2009, hanya mencapai 35,97 persen. Artinya, masih kalah jauh dibandingkan Malaysia yang memiliki rasio 147,05 persen. Namun demikian, Indonesia menurutnya harus bisa memanfaatkan momentum positif ini.

"Ini adalah momentum yang tepat dan harus bisa dimanfaatkan dengan baik. Perekonomian kita tengah berada pada fase ekspansi penuh. Laju pertumbuhan ekonomi akan cenderung semakin cepat," ucapnya lagi. (afz/jpnn)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar