Efek Sekolah Lapang, Panen Petani NTT Melonjak Drastis

Efek Sekolah Lapang, Panen Petani NTT Melonjak Drastis
Efek sekolah lapang panen petani NTT melonjak drastis. Foto: Humas Kementan

"Karena sebelumnya mereka sudah mendapat pemahaman melalui kegiatan lain. Khususnya terkait bagaimana peningkatan produksi dan produktivitas tanaman padi," lanjut Dominggus.

Saat ini, kata dia, tingkat produktivitas petani naik signifikan selepas program IPDMIP.

"Awal-awal hanya 3,8 ton per hektare sampai 4,5 ton per hektare, sekarang produktivitas padi sawah sudah mencapai 5,2 ton per hektare sampai 6,5 bahkan dapat mencapai delapan ton atau sembilan ton per hektarenya. Harapan masyarakat pelaksana Program IPDMIP ini tetap berlanjut pada tahun-tahun mendatang," ujar dia.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa IPDMIP harus berperan mendorong proses transformasi dari sistem pertanian tradisional menjadi modern. Untuk itu, SDM-nya harus digarap lebih dahulu.

"Mereka adalah petani, penyuluh, petani milenial melalui pelatihan,” kata Dedi.

Sistem pertanian tradisional, katanya, dicirikan oleh produktivitas yang rendah, penggunaan varietas lokal, dikerjakan secara manual atau dengan bantuan tenaga ternak.

Sistem pertanian ini belum memanfaatkan mekanisasi pertanian serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

“Pertanian modern dicirikan masifnya varietas berdaya hasil tinggi, menerapkan mekanisasi dan pemanfaatan teknologi era industri 4.0,” jelas Dedi. (rhs/jpnn)

Dalam satu dekade terakhir pertanian di NTT berkembang pesat, salah satunya berkat program sekolah lapang.


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News