JPNN.com

Ekonomi Sektor Kehutanan Indonesia Berdenyut di Tengah COVID-19

Kamis, 16 Juli 2020 – 10:27 WIB
Ekonomi Sektor Kehutanan Indonesia Berdenyut di Tengah COVID-19 - JPNN.com
Sekretaris Jenderal KLHK/Plt Direktur Jenderal PHPL, Bambang Hendroyono (kanan). Foto: Humas KLHK

jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama-sama dengan para stakeholder industry kehutanan terus berupaya meningkatkan produktivitas dan keberlangsungan usaha untuk seluruh pihak yang bekerja di hutan produksi meski situasi saat ini masih terjadi pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 telah berdampak pada kinerja usaha hulu-hilir sektor kehutanan.

Hal tersebut dikemukakan Sekretaris Jenderal KLHK/Plt Direktur Jenderal PHPL, Bambang Hendroyono saat memberikan penjelasan pada media briefing secara virtual, Rabu (15/7).

Bambang menjelaskan kinerja ekspor produk industri kehutanan turun hingga ke level minus 8,3 persen pada periode Januari-Mei 2020, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, tetapi kemudian mengalami perbaikan secara signifikan menjadi minus 5 persen pada penilaian periode Januari-Juni tahun ini.

“Angka tersebut menunjukkan peningkatan kinerja ekspor produk kehutanan sebesar 3,3 persen sejak Juni tahun ini, yang merupakan pencapaian positif di tengah pandemi yang sedang berlangsung,” ujar Bambang Hendroyono

Bambang optimistis, meskipun pertumbuhannya masih di bawah nol, tetapi tidak mengalami penurunan lebih jauh. Hal ini mengindikasikan bahwa kinerja ekspor sektor kehutanan masih berada pada jalur yang positif.

Sementara itu kinerja sektor hulu kehutanan di masa pandemi Covid 19 untuk produksi kayu bulat hutan alam periode Januari – Juni 2020 mengalami penurunan sebesar 3,90% dibanding periode yang sama Tahun 2019. Di sisi lain, produksi kayu bulat hutan tanaman justru meningkat sebesar 21,50%.

Lebih lanjut, Bambang mengatakan KLHK telah melakukan cara kerja baru dalam mengelola hutan produksi secara lestari. Pengelolaan hutan produksi dilakukan dengan pendekatan landscape.

Kemudian analisis spasial untuk melihat area rawan karhutla, konflik tenurial, dan mengintegrasikan sektor produksi di hulu dengan industri di hilirnya. Ketika ditemukan masalah di lapangan, secepatnya untuk menemukan solusi. Terkahir adalah integrasi program baik untuk industri di hulu dan hilir, serta untuk pasar.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
fri