Minggu, 18 November 2018 – 02:17 WIB

Elektabilitas Golkar Tergerus 'Efek Bakpao' Setya Novanto

Sabtu, 03 November 2018 – 13:38 WIB
Elektabilitas Golkar Tergerus 'Efek Bakpao' Setya Novanto - JPNN.COM

jpnn.com, JAKARTA - Dominasi Partai Golkar berangsur surut. Jajak pendapat Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA tentang elektabilitas partai politik di 10 provinsi besar menunjukkan Golkar hanya dominan di Sulawesi Selatan.

Berdasar survei LSI pada 4-10 Oktober 2018, PDIP dominan di lima dari 10 provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta dan Jawa Tengah. Sedangkan dominasi PDIP di Jawa Barat pada Pemilu 2014 dipatahkan oleh Gerindra.

Partai pimpinan Prabowo itu dominan di Jabar, Riau dan Banten. Sedangkan PKB menjadi jawara di Jawa Timur, adapun Golkar di Sulsel.

Peneliti Senior LSI Adjie Alfaraby mengungkapkan, Golkar yang biasanya menjadi jawara ataupun runner up di pemilu legislatif, berdasar survei itu justru berada di posisi ketiga setelah PDIP dan Gerindra. "Untuk pertama kalinya partai Golkar tidak masuk dua besar dalam sejarah pemilu di Indonesia," ujarnya dalam paparan hasil survei LSI Denny JA di Jakarta, Jumat (2/11).

Merujuk survei itu, Golkar masih dominan di Sulawesi Selatan dengan elektabilitas 23,5 persen. Angka itu meningkat dibandingkan perolehan suara Golkar pada Pemilu 2014 sebesar 20,1 persen.

Sedangkan posisi kedua di Sulsel menjadi milik Gerindra dengan 16,3 persen. Selanjutnya di posisi ketiga ada PDIP dengan 7,3 persen.

Berdasar survei LSI, perubahan yang dialami Golkar tak terlepas dari imbas kasus Setya Novanto. Korupsi e-KTP yang membelit mantan ketua umum Golkar itu telah menggerus elektabilitas partai yang selalu menjadi jawara di pemilu-pemilu Orde Baru tersebut.

“Golkar terkena ‘Efek Bakpao’. Kasus Setya Npvanto yang puncaknya menabrak tiang listrik dan diklaim benjol sebesar bakpao. Kasus itu itu cukup menurunkan wibawa Golkar,” ulasnya.

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar