Farhat Abbas Ditolak di Bogor, Kenapa Ya?

Farhat Abbas Ditolak di Bogor, Kenapa Ya?
Farhat Abbas Ditolak di Bogor, Kenapa Ya?

jpnn.com - BOGOR - Penunjukan Farhat Abbas sebagai calon wakil bupati (cawabup) Bogor tak berjalan mulus. Penolakan dari berbagai kalangan pun terus mengalir. Di antaranya dari partai Koalisi Kerahmatan, para ulama Kabupaten Bogor hingga pegiat antikorupsi.

"Saya tidak mengenal Farhat Abbas. Yang saya kenal ketua DPC PPP Kabupaten Bogor, Ade Munawaroh," ujar Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Usep Saefullah pada Radar Bogor (JPNN Group) kemarin.

PAN, kata Usep, tidak ingin mencampuri masalah internal PPP. Namun, kata dia, pemilihan wakil bupati menyangkut hidup 5,3 juta penduduk. "Jadi, tidak bisa asal-asalan," imbuhnya.

Ketua DPC Partai Hanura, Hendrayana juga mencibir adanya usulan tersebut. Menurut dia, sepanjang memenuhi syarat siapa pun bisa saja diusulkan. Namun, permasalahannya,  apakah calon tersebut bisa didukung atau tidak oleh kekuatan politik yang lain.

"Perlu dicatat untuk menjadi wabup di Bogor ini tidak mudah. Selain harus memenuhi beberapa syarat tadi yang terpenting memahami kondisi Kabupaten Bogor secara utuh," kata dia. Hendra, menilai Farhat tidak menguasai kondisi Kabupaten Bogor.

Ketua DPD Partai Nasdem, Albert Pribadi juga mengaku terkejut dengan adanya usulan tersebut. Albert mengaku tidak mengenal Farhat. "Dia itu bukannya yang sering kontroversi?" kata Albert.

Di lain pihak, Ketua DPC PPP Kabupaten Bogor Ade Munawaroh Yanwar menegaskan, siapa pun bisa mencalonkan diri menjadi wakil bupati. Tapi semuanya harus menempuh sesuai aturan. Baik itu aturan internal partai maupun undang-undang.

"Dan, yang lebih penting adalah, ketika orang itu mempunyai suatu keinginan untuk menjadi representasi dari masyarakat, sudahkan dia berkomunikasi terlebih dahulu dengan masyarakat yang akan dipimpinnya?" tegas Ade. (ind/ful/tik/c/jos/jpnn)


Berita Selanjutnya:
Ini Doa Tina Toon Untuk Olga

BOGOR - Penunjukan Farhat Abbas sebagai calon wakil bupati (cawabup) Bogor tak berjalan mulus. Penolakan dari berbagai kalangan pun terus mengalir.


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News