Gang Besar

Oleh: Dahlan Iskan

Gang Besar
Dahlan Iskan. Foto: Ricardo/JPNN.com

"Yang satu sudah diikhlaskan untuk dipotong siang tadi. Untuk makan malam bersama dengan Pak Dahlan," jawab Muslimin, bos di situ.

Baca Juga:

Malam pun tiba. Diiringi sate, gulai, dan satu lagi yang mirip gulai Palembang tapi bukan gulai. Saya menyesal tidak mengajak istri –penggemar kambing tak terkalahkan, oleh saya.

Canda, tawa, humor, saling ledek, dan asap kambing campur menjadi satu. Sisa waktu tinggal sedikit –karena harus nonton siaran sepak bola.

Beberapa agenda yang belum dibuat harus dicoret, tetapi yang tiga ini harus tetap disempatkan. Biarpun di tengah gelap: nostalgia urusan sumbangan Rp 2 T itu.

Maka kami mampir ke restoran Padang milik si cantik ''lima i'' itu. Yang dokter spesialis kandungan itu. Yang resto itu ternyata di sebelah rumahnyi yang sangat besar dan megah itu.

Siapa tahu si ''lima i'' lagi ada di resto –ternyata lagi bertugas di rumah sakit miliknyi sendiri.

Saya juga ke rumah Ahong. Yakni putri Akidi Tio, yang menjanjikan menyumbang Rp 2 T ke Kapolda Sumsel –dari warisan orang tuanyi.

Kami mengetuk-ketuk pintu pagar rumahnyi. Tak ada tanda-tanda kehidupan di situ. Kami tidak mau mendobraknya.

Saya juga ke rumah Ahong. Yakni putri Akidi Tio, yang menjanjikan menyumbang Rp 2 T ke Kapolda Sumsel –dari warisan orang tuanyi.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News