Gerakan Sekolah Menyenangkan, Cara Baru Tangkal Radikalisme

Gerakan Sekolah Menyenangkan, Cara Baru Tangkal Radikalisme
Mencegah Radikalisme. ILUSTRASI. Foto: Pixabay.com

jpnn.com, JAKARTA - Perkembangan paham radikalisme belakangan semakin meluas. Bahkan, sudah menyebar ke kalangan sekolah-sekolah. Namun, paham ini bisa dipangkas dengan pendidikan kritis Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM).

Pendiri GSM Muhammad Nur Rizal mengatakan, dalam tiga tahun terakhir, pembahasan mengenai intoleransi dan radikalisme agama terbilang cukup gencar di Indonesia.

Hal ini tentu sangat bisa dimaklumi jika menilik hasil penelitian mencengangkan yang dirilis oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terkait radikalisme pada 2018 lalu.

Sebesar 57,03 persen guru di Indonesia di level SD dan SMP ternyata memiliki pandangan intoleran.

Bahkan, Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) lebih dulu menawarkan hasil penelitian bahwa 48,9 persen siswa mendukung adanya tindakan radikal.

Data ini mengindikasikan bagaimana sebuah paham alternatif berusaha menggeser ideologi Pancasila dan pengaruhnya mulai merasuk di setiap lapisan masyarakat. Ironisnya, dia sudah menyasar salah satu sendi strategis bangsa, yakni pendidikan.

Rizal menerangkan, sekolah sebagai institusi pendidikan bisa menjadi jalan retasan untuk menghadapi masalah ini.

“Sekolah-sekolah perlu menggalakkan cara belajar yang mengakomodasi pikiran kritis. Anak-anak juga perlu diberi ruang untuk belajar memahami keberagaman informasi dan literasi digital, terutama di pendidikan dasar dan keluarga,” kata dia dalam keterangannya, Senin (7/10).

Dalam tiga tahun terakhir pembahasan mengenai intoleransi dan radikalisme agama terbilang cukup gencar di Indonesia.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News