Gudeg Terakhir untuk Sang Da'i

Gudeg Terakhir untuk Sang Da'i
Foto: M Ali/Jawa Pos/JPPhoto
Bangunnya Zainuddin, menjadi pertanda bahwa Sudalno harus segera menyiapkan teh hangat untuk majikan yang sudah ditemaninya sejak 16 tahun lalu. "Pokoknya pak ustad (panggilan Zainuddin) bangun saya harus ada," kata dia menggambarkan kedekatannya dengan sang majikan.

Setelah keluar ke teras, Zainuddin kembali ke kamarnya dan kembali rebahan di atas kasur. Saat Sudalno masuk untuk menyajikan teh, majikannya itu langsung meminta sarapan. Karena nasi di dapur habis, Sudalno pun diminta untuk membeli nasi gudek di warung yang tak jauh dari rumahnya. Ternyata itu adalah nasi bungkus yang terakhir untuk Zainuddin.

Ratusan kilometer dari Jakarta, Fikri Haikal, anak sulung Zainuddin M.Z justru berada di Jawa Timur saat mendapat kabar meninggal ayahnya. Dia berada di Jatim lantaran mendapat amanat untuk menggantikan dua acara Zainuddin M.Z di Malang dan Blitar. "Saya baru kembali ke Jakarta jam 10.00," ujarnya.

Kematian ayahnya di dapat dari telepon adiknya yang paling kecil yakni Zaki Muhammad Zein. Dia mnegaku sangat kaget begitu adiknya memberitahukan perihal itu. Belum jauh kesedihannya muncul, dia lantas ingat jika ayahnya memang sudah sakit-sakitan. "Saya di suruh ke Jatim karena ayah tidak enak badan," ungkapnya.

SEBUNGKUS nasi gudeg yang masih hangat diletakkan Sudalno di lantai kamar majikannya. Saat itu, dia melihat Zainuddin M.Z, majikaannya, sibuk menyisir

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News