Guru Besar Farmasi Jawab Kontroversi Pernyataan Dokter Lois

Guru Besar Farmasi Jawab Kontroversi Pernyataan Dokter Lois
Ilustrasi: Favipiravir, obat yang bisa digunakan untuk terapi COVID-19 hasil produksi dari PT Kimia Farma, Tbk. ANTARA/Dok Humas Bio Farma/pri

Jadi tidak bisa digeneralisir dan harus dikaji secara individual.

Banyak kondisi penyakit yang membutuhkan lebih dari satu macam obat untuk terapi, apalagi jika pasien memiliki penyakit lebih dari satu (komorbid).

Hal serupa juga terjadi pada kasus pasien-pasien COVID-19 yang memiliki komorbid.

Zullies kemudian menyebut hipertensi sebagai contoh penyakit yang tidak bisa terkontrol hanya dengan obat tunggal.

Kadang jenis penyakit itu membutuhkan obat antihipertensi lain yang dikombinasikan dengan dua atau tiga obat antihipertensi lainnya.

Dalam kasus ini Zullies menjelaskan bahwa pemilihan obat yang akan dikombinasikan harus tepat, yaitu yang memiliki mekanisme yang berbeda.

"Sehingga ibarat menangkap pencuri, dia bisa diadang dari berbagai penjuru. Dalam hal ini obat tersebut dapat dikatakan berinteraksi, tetapi interaksi ini adalah interaksi yang menguntungkan, karena bersifat sinergis dalam menurunkan tekanan darah," ucapnya.

Lantas bagaimana dengan terapi COVID-19?

Guru Besar Farmasi menjawab kontroversi pernyataan dokter Lois Owien soal pasien COVID-19.

Sumber ANTARA

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News