Guru Honorer Wamena Ogah Kembali ke Kampung Halaman

Guru Honorer Wamena Ogah Kembali ke Kampung Halaman
Pengungsi menceritakan pengalamannya saat kerusuhan Wamena kepada Wakil Bupati Mimika Johannes Rettob. Foto : Evarianus Supar/Antara

"Kalau ingat kejadian itu, saya tidak mau kembali lagi ke Wamena. Kami keluar dari rumah hanya dengan pakaian di badan saja. Anak saya yang paling kecil sampai kencing di celana," kata Paula yang mengaku tinggal di Jalan Bhayangkara Wamena itu.

Paula mengaku baru bisa mengganti pakaiannya saat tiba di posko pengungsian di Jayapura.

Kini Paula bersama seorang putrinya yang masih kecil dan 14 orang pengungsi asal Kepulauan Kei, Maluku Tenggara masih menantikan jadwal kapal yang akan mengangkut mereka dari Pelabuhan Pomako Timika menuju Tual.

"Suami saya masih di Wamena, mereka tidak bisa turun ke Timika karena aparat minta supaya laki-laki tetap tinggal di Wamena, perempuan saja yang diizinkan keluar dari Wamena," ujarnya.

Panglima Kodam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab saat menemui pengungsi Wamena dan Ilaga di Gedung Tongkonan milik Ikatan Keluarga Toraja/IKT Mimika, Selasa (8/10) menegaskan pemerintah bersama aparat TNI dan Polri kini fokus untuk memulihkan situasi di Wamena agar aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, pemerintahan dan lainnya bisa berjalan normal kembali.

"Sekarang tidak ada lagi eksodus pengungsi dari Wamena. Yang ada, bagaimana kita secepatnya memulihkan situasi di Kota Wamena agar semua sektor bisa kembali bergerak," kata Mayjen Asaribab di Timika, Selasa.

Putra asli Papua yang baru memegang tongkat komando Kodam XVII Cenderawasih sejak 18 September 2019 itu berharap situasi di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya secepatnya bisa pulih kembali seperti sedia kala.(antara/jpnn)

Keluarga guru honorer dan tetangga sekitar memutuskan mengungsi ke Kantor Dekenat Wamena.


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News