Hati-Hati Banyak Propaganda Hoaks untuk Memecah Belah Bangsa

Hati-Hati Banyak Propaganda Hoaks untuk Memecah Belah Bangsa
Ilustrasi - Budaya membaca bisa membantu menangkal hoaks. Foto: Ricardo/jpnn.com

jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) menemukan 3.801 hoaks sepanjang 2019. Mayoritas hoaks tersebut adalah terkait politik, yaitu mengenai calon presiden dan wakil presiden, partai politik peserta dan penyelenggara pemilu.

Sementara itu, per 16 November 2020, Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) yang berkolaborasi dengan cekfakta.com menemukan 2.024 hoaks beredar di Indonesia sejak awal tahun.

Setidaknya sepertiga dari jumlah tersebut adalah hoaks terkait pandemi Covid-19. Sementara isu lain yang kerap dijadikan tema hoaks adalah pilkada serentak 2020 dan UU Omnibus Law.

Peredaran hoaks sendiri umumnya terjadi di media sosial. Terbanyak ada di Facebook, kemudian platform lain seperti Twitter dan WhatsApp.

Pengemasannya yang mudah dicerna dan dibumbui kesan bombastis kerap membuat orang mudah memercayai hoaks.

Tak jarang, para pembuatnya menggunakan hoaks ini sebagai alat propaganda untuk memecah belah sesama anak bangsa.

Anggota DPD RI, Misharti, menyebut, beberapa hal yang tersebar melalui internet saat ini mengancam dan menyerang karakter serta persatuan bangsa. Di antaranya adalah propaganda asing, intoleransi dan radikalisme.

“Ada juga weaponization of social media, ‘tempur politik di media sosial'. Hoaks menjadi alat propaganda yang dimanfaatkan banyak pihak, menjadi political game di berbagai negara, termasuk di Indonesia," ujar Misharti kepada Wartawan, Rabu (16/12/2020) di Jakarta.

Pengemasan propaganda yang mudah dicerna dan dibumbui kesan bombastis kerap membuat orang memercayai hoaks.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News