Hutan Batu Maros, Destinasi Wisata Alam yang Kurang Dapat Perhatian

Hutan Batu Maros, Destinasi Wisata Alam yang Kurang Dapat Perhatian
POTENSI WISATA: Pemandangan hutan batu Rammang-Rammang yang kurang tergarap sebagai objek wisata. Foto: Gunawan Sutanto/Jawa Pos

Keindahan yang dianugerahkan Tuhan tersebut seolah tidak punya makna apa-apa. Karena itu, boro-boro mengundang perhatian wisatawan, hutan batu tersebut tidak bisa menghasilkan pendapatan bagi daerah setempat.

Saat mengunjungi stone forest di Yunnan tahun lalu, saya terhipnotis oleh guide yang pandai mengajak pengunjung berfantasi melihat bebatuan hasil evolusi alam ratusan juta tahun silam itu. Guide asli warga setempat tersebut juga pandai menghubung-hubungkan penampakan batu dengan benda atau makhluk hidup tertentu.

Di lokasi wisata stone forest Shilin Yi juga terdapat museum geologi yang memberikan banyak informasi tentang sejarah terbentuknya hutan batu tersebut berikut macam-macam bebatuan yang ada. Ada pula rute-rute yang bisa ditempuh secara efektif bagi pengunjung. Pengunjung akan diantar dengan mengendarai kereta luncur sesuai rute yang dipilih.

Semua itu sama sekali tidak terdapat di hutan batu Rammang-Rammang. Pemerintah Maros, tampaknya, belum menyadari bahwa di wilayahnya terdapat objek wisata alam yang layak dipromosikan ke luar negeri.

Karena itu, tak heran bila sejauh ini pengunjung tidak perlu mengeluarkan duit untuk masuk, tidak ada guide yang akan menjelaskan lokasi tersebut, dan sebagainya.

’’Biasanya, kalau ada yang ingin wisata di Maros, tujuannya ke air terjun Bantimurung,’’ ujar Anto Driver, sopir mobil rental yang membawa saya pergi ke hutan batu Rammang-Rammang.

Anto yang mengaku belum pernah menyusuri Sungai Pute untuk melihat pemandangan hutan batu Rammang-Rammang itu pun terperangah ketika melihat indahnya hutan batu tersebut. ’’Pemandangan di sini tak kalah bagusnya dibanding di Bantimurung,’’ ungkapnya.

Tetapi, menurut Arman, ada pemandangan yang lebih bagus daripada hutan batu di sepanjang Sungai Pute. Yakni, hutan batu di Desa Berua, 20 menit setelah perjalanan perahu itu. Di sana terhampar sawah kering dengan latar bebatuan cadas yang mengelilinginya. Langit biru menambah cantik pemandangan itu.

KABUPATEN Maros, Sulawesi Selatan, punya wisata pegunungan karst (batu) yang indah. Hutan batu itu termasuk yang terbesar kedua di dunia versi UNESCO

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News