Indonesia Lawak Klub, Lucu dan Mikir

Indonesia Lawak Klub, Lucu dan Mikir
Indonesia Lawak Klub, Lucu dan Mikir

Sebisanya ILK tidak mengundang pelawak-pelawak seperti Olga Syahputra dan nama-nama lain yang sudah menjadi langganan komedi slapstick dan bullying. "Ya, kalau yang diundang itu-itu lagi, apa bedanya sama acara yang sudah ada?" kata Ucok. "Kita tidak mau jadi follower. Kita mau jadi trendsetter," tegasnya.

Selain mengajak para komedian yang memiliki karakter kuat dalam melawak, kru ILK memiliki rumus dalam menentukan komposisi pemain. Setiap episode, biasanya ada 7"8 komedian dari genre berbeda.

Mereka akan menjadi empat posisi. Yaitu, satu orang pemandu yang dipercayakan kepada Denny. Lalu, 4-5 orang bertugas sebagai player atau pengumpan yang mengungkapkan data, 1 orang breaker atau tukang nyeletuk yang biasanya diperankan Komeng, dan 1 orang yang menjadi "sosok lemah".

Tim kreatif ILK berupaya mendatangkan pelawak-pelawak dari berbagai generasi. Baik pelawak senior seperti Marwoto maupun pelawak muda Chika Jessica. Kombinasi generasi itu tidak membuat para pemain mati kutu, bahkan menambah kelucuan.

Ucok mengatakan, komposisi pemain memengaruhi tema. Sempat beberapa kali mereka memberikan tema tanpa melihat karakter pemain, hasilnya mengecewakan karena lucunya tidak maksimal.
Misalnya, pada episode Selfie. Kru beranggapan dengan materi yang sangat kekinian, hasilnya akan sangat lucu. Sayangnya, pemain-pemain yang saat itu terlibat tidak terlalu dekat dengan materi tersebut sehingga kurang maksimal.

ILK memang bukan program komedi biasa. Setiap pemain dituntut mampu mendekonstruksi sebuah masalah yang dijadikan tema. Itu harus dilakukan secara smart sehingga guyonan yang dihasilkan terasa pintar. Tawa di acara tersebut, mengutip kata Cak Lontong, dihasilkan dari, "Mikir!"

Misalnya, pada episode Terjebak Uang Panas yang membahas artis-artis yang tersandung kasus pencucian uang para koruptor. "Kalau para artis dipanggil (KPK) karena menerima uang setelah manggung, kenapa para pengacara (yang dibayar pakai uang itu juga) tidak ikut dipanggil?" celetuk pelawak Bolot.

Tayang setiap hari dengan format sama, potensi penonton bosan sangat besar. Ucok berusaha mencegahnya dengan memilih tema-tema yang sedang hot.

BEBERAPA bulan terakhir, program komedi TV nasional boleh dibilang seragam. Memadukan goyangan, candaan slapstick, bullying, dan pengisi acara itu-itu

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News