JPNN.com

Indra Bambang Utoyo Ramaikan Bursa Calon Ketum Golkar

Sabtu, 20 Juli 2019 – 18:32 WIB Indra Bambang Utoyo Ramaikan Bursa Calon Ketum Golkar - JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Politikus Golkar Indra Bambang Utoyo turut meramaikan bursa calon ketua umum partai berlambang beringin itu. Indra ikut melantai di bursa calon ketum Golkar karena kepemimpinan Airlangga Hartanto tidak mampu membawa partai ke arah yang lebih baik.

"Menurunnya perolehan suara dan kursi DPR RI pada Pemilu 2019 disebabkan oleh faktor kepemimpinan yang bermasalah, tidak adanya isu strategis, tidak terlaksananya konsolidasi dengan baik, serta kasus korupsi yang menjerat kader partai," kata Indra, Sabtu (20/7).

Indra lantas menceritakan histori Golkar lahir. Cikal bakal partai berlambang beringin ini lahir atas dorongan Jenderal Ahmad Yani dengan nama Sekber Golkar pada 1964 dengan misi mempertahankan ideologi bangsa, Pancasila dari rongrongan PKI atau komunisme.

Sementara pada tantangan saat ini, meski sel-sel komunisme masih hidup, tetapi ada gangguan ideologi baru dari konsep khilafah. Menurut Indra, Golkar tidak mampu menjadi benteng Pancasila dalam melawan khilafah terutama saat kontestasi Pilgub DKI 2017 yang semakin memanas pada Pilpres 2019.

"Dalam kaitan ini saya melihat Golkar tidak menunjukkan kekhawatiran terhadap perkembangan khilafah ini, di mana seharusnya Golkar lah yang paling depan mewaspadai bahkan melawannya," kata Indra.

BACA JUGA: Lawrence Siburian Sebut DPP Golkar Pengin Rombak Struktur Kepengurusan Jelang Munas

Dia melanjutkan, Golkar hari ini semakin terpuruk. Konflik di internal Golkar terus meruncing disebabkan persaingan kekuasaan. Suasana malahan menjadi pragmatis, meninggalkan idealisme.

"Isinya seperti jual-beli suara. Ditambah lagi tokoh-tokoh legislator Golkar terlibat pada kasus di KPK. Bahkan terakhir Ketua Umum (Setya Novanto) dan Sekjen (Idrus Marham) yang dibanggakan masuk ke tahanan bersama beberapa tokoh lain, dari pusat hingga daerah. Sempat pula Golkar terbelah selama hampir dua tahun, karena persoalan pragmatisme dan kekuasaan," kata dia.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...