JPNN.com

Industri Pertambangan dan Penggalian Sumbang Rp 76 Triliun

Senin, 13 Mei 2019 – 11:35 WIB Industri Pertambangan dan Penggalian Sumbang Rp 76 Triliun - JPNN.com

jpnn.com, SAMARINDA - Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan Timur pada triwulan pertama 2019 yang berdasarkan harga berlaku mencapai Rp 165,12 triliun.

Kontribusi usaha pertambangan dan penggalian masih menjadi kontributor terbesar bagi PDRB Kaltim.

Sektor usaha itu memberi andil sebesar 46,25 persen atau mencapai Rp 76,36 triliun.

BACA JUGA: Program ALS Micromine Siapkan Tenaga Terampil di Bidang Pertambangan

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Atqo Mardiyanto mengatakan, pada triwulan pertama tahun ini PDRB di Kaltim tidak banyak perubahan.

Seperti biasanya, batu bara masih mendominasi. Di posisi kedua ada lapangan usaha industri pengolahan dengan andil sebesar 17,74 persen atau senilai Rp 29,28 triliun.

Di posisi ketiga ada lapangan usaha di sektor konstruksi yang memberikan sumbangan sebesar 9,07 persen atau senilai Rp 14,97 triliun.

“Agar batu bara tidak terlalu mendominasi, seharusnya sektor lain harus bisa tumbuh di atas 15 persen. Kalau sudah begitu, baru mulai terlihat pergeseran PDRB,” katanya, Minggu (12/5).

Menurutnya, yang paling potensial untuk dikembangkan adalah industri pengolahan dan sektor konstruksi.

Jika terus dikembangkan, kontribusi batu bara bisa bergeser. Namun, tetap harus pertumbuhannya di atas 15 persen.

“Program nasional kita harus industrialisasi. Sektor ini harus terus ditumbuhkan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, perekonomian Kaltim pada awal 2019 ini mengalami pertumbuhan sebesar 5,36 persen jika dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan triwulan ini lebih tinggi dibandingkan triwulan pertama 2018, yang tumbuh sebesar 1,77 persen.

“Pertumbuhan ekonomi itu dipicu pertumbuhan pada hampir seluruh lapangan usaha dibandingkan kondisi triwulan I 2018 lalu. Kecuali lapangan usaha industri pengolahan dan lapangan usaha jasa perusahaan,” ungkapnya.

Pada triwulan pertama 2019 secara tahunan, pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha konstruksi yang tumbuh sebesar 16,14 persen.

Lalu diikuti lapangan usaha jasa lainnya yang tumbuh sebesar 9,20 persen, dan lapangan usaha pengadaan listrik dan gas sebesar 8,37 persen.

Lapangan usaha industri pengolahan masih mengalami kontraksi sebesar 1,84 persen, dan lapangan usaha jasa perusahaan terkontraksi sebesar 1,12 persen.

“Sektor ini yang harus ditumbuhkan agar ekonomi Kaltim tidak terus-menerus didominasi pertambangan dan penggalian,” pungkasnya. (*/ctr/ndu/k15)

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...