JPNN.com

INDY Refloating Saham Petrosea

Kamis, 09 Juni 2011 – 09:01 WIB INDY Refloating Saham Petrosea - JPNN.com
JAKARTA - PT Indika Energy Tbk (INDY)  bakal melepas sebanyak 16,6 persen saham PT Petrosea Tbk (PTRO) langkah itu ditempuh sebagai bagian dari re-floating (pelepasan kembali saham ke publik), paska akuisisi dua tahun lalu. Dan, hingga saat ini rencana itu masih dalam proses termasuk melakukan pemecahan nilai (stocksplit) saham nominal Petrosea.

“Berdasar regulasi, refloating saham Petrosea akan dilakukan tahun ini. Tapi, waktunya belum bisa kami sebutkan,” ungkap M Arsjad Rasjid, Direktur Utama INDY, di Jakarta, Rabu (8/6).

Arsjad menyebutkan perseroan masih melakukan tahapan-tahapan terakait rencana refloat tersebut. Manajemen baru akan membuka penawaran, setelah keputusan skema refloat ditetapkan manajemen. Namun proses refloat, tidak akan dilakukan dengan cara right issue (penerbitan saham terbatas). Manajeman Indika dan Petrosea sebelumnya, sempat menyebut kisaran saham yang akan dilepas mencapai 20-30 persen.

Saat ini, Indika menguasai 98,55 persen saham Petrosea. Sisanya 1,45 persen dimiliki publik. Akuisisi dilakukan Indika pada Februari 2009, dengan mengambil alih 81,95 persen saham Petrosea dari pemilik saham lama, Clough International.

Setelah itu, pada September 2009,  Indika  melaksanakan penawaran tender (tender offer) 16,6 persen saham publik pada harga Rp 10.402 per saham. Merujuk regulasi Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Indika selaku pengendali baru wajib melepas kembali (re-floating) saham Petrosea dalam jangka waktu dua tahun setelah penyelesaian tender offer.

Sementara sepanjang 2011, perseroan optimistis meningkatkan produksi batubara dari anak usahanya yaitu, PT Kideco Jaya Agung (Kideco) menjadi 31 juta ton pada 2011 dari 29,1 juta ton pada 2010. Soal harga jual rata-rata (average selling price/ASP) Kideco diproyeksikan sebesar USD 66 per metrik ton (MT). Di mana pada kuartal pertama 2011 harga jual rata-rata sebesar USD 62 per MT, harga itu diharapkan terus meningkat hingga akhir tahun, sesuai kenaikan harga jual komoditas di pasar global.

Sedang untuk tambang PT Santan Batubara diharapkan mencapai produksi sebesar 2,5 juta ton, dengan ASP sekitar USD 85.1 per ton. Tahun lalu, produksi Santan Batubara sebanyak 2,1 juta ton. Santan Batubara merupakan perusahaan patungan. Indika Energy memiliki 50 persen saham, sedangkan 50 persen dikuasai PT Harum Energy Tbk (HRUM). “Peningkatan itu akan mendongkrak laba bersih dibanding 2010,” tambah Azis Armand, Direktur Keuangan INDY.

Di sisi lain, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar USD 185,1 juta dari kas internal. Alokasi Capex untuk Petrosea sebesar USD 103 juta, sisanya untuk kebutuhan modal kerja anak-anak usaha lain. Untuk Petrosea, perseroan mengharap tambahan kontrak senilai USD 1,04 miliar dari PT Gunung Bayan Pratama, PT Santan Batubara, dan PT Adimitra Baratama Nusantara.

Di samping itu, untuk usaha power plant perseroan akan menyelesaikan proyek pembangkit listrik di Cirebon milik PLN berdaya 60 Mega Watt (mw).

Dalam proyek itu, perseroan memiliki porsi 20 persen. Tahun depan, pembangkit listrik itu bisa digunakan secara optimal PLN. Sementara untuk proyek Exxon senilai USD 750 juta yang dibidik Indika, yang masih dalam proses. Diharapkan keputusan proyek itu bisa didapat pada Agustus-September 2011.

Sedangkan anak usaha lain yaitu PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) yang diakuisisi tahun ini sebanyak 51 persen, diharapkan mampu meraih laba bersih sebesar USD 38 juta atau setara Rp 334,4 miliar (kurs rupiah Rp 8.800) pada pengujung 2011 naik 68,6 persen dari edisi tahun lalu dikisaran Rp 198,3 miliar. Hingga kuartal pertama 2011, Indika membukukan laba bersih sebesar Rp 266,16 miliar, turun 9 persen dibanding periode sama tahun lalu Rp 292,55 miliar. Pendapatan perseroan naik tipis 2,7 persen menjadi Rp 768,67 miliar dari dari Rp 748,41 miliar periode sama tahun lalu.

Perseroan membagikan dividen final sebesar Rp 135,4 miliar atau Rp 26 per saham. Sebelumnya, perseroan telah membagikan sebesar Rp 249,9 miliar atau Rp 48 pada November 2010. Sehingga total dividen yang dibagikan adalah Rp 385,3 miliar atau setara 50 persen dari laba bersih 2010 sebesar Rp 772,7 miliar. (far)

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...