Infrastruktur Hancur, Harga Properti Babak Belur

Infrastruktur Hancur, Harga Properti Babak Belur
Infrastruktur Hancur, Harga Properti Babak Belur
JAKARTA - Buruknya infrastruktur membuat harga properti mulai dari perkantoran, hunian, sampai ritel di Indonesia, berada di level terendah di Asia, bahkan dibandingkan Vietnam yang usia negaranya jauh lebih muda. Kepastian hukum dan kelebihan supply dibandingkan demand juga menjadi penyebab utama.

Vice President Investment Sales PT Jones Lang Lasalle (JLL), Djodi Trisusanto, mengatakan dalam studi yang dilakukan perusahaannya menunjukkan bahwa seringkali perusahaan besar asing seperti Microsoft atau IBM pada akhirnya memilih membeli kantor dan gedung training center di negara tetangga dibandingkan di Indonesia. Perusahaan besar itu membutuhkan tempat sebagai perwakilan di wilayah Asia Tenggara.

Penyebabnya, kata Djodi, infrastruktur di Indonesia sampai saat ini kalah saing. Betapa murah harga properti menjadi tidak berarti karena pada akhirnya dihitung tidak efektif dan tidak efisien. "Bagaimana mereka mau memilih, jika dari bandara untuk sampai CBD (Central Business District) saja kena macet panjang. Padahal harga properti di Jakarta ini dibandingkan Ho Chi Minh City (Vietnam) saja masih lebih murah," ucapnya saat Market Insight di Jakarta, kemarin (26/1).

Selain itu, aturan kepemilikan asing terhadap properti di Indonesia masih belum ada kepastian. Tarik ulur yang berkepanjangan membuat penjualan properti terutama di kelas apartement dan kondominium tersendat. Sementara, pembangunan terus berjalan sehingga terjadi kelebihan supply dibandingkan demand. "Karena supplynya kebanyakan maka harga murah," terusnya.

JAKARTA - Buruknya infrastruktur membuat harga properti mulai dari perkantoran, hunian, sampai ritel di Indonesia, berada di level terendah di Asia,

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News