Rabu, 21 Agustus 2019 – 22:41 WIB

Ingat ya, Kental Manis Bukan Susu, Kandungan Gula Sangat Tinggi

Selasa, 16 Juli 2019 – 08:13 WIB
Ingat ya, Kental Manis Bukan Susu, Kandungan Gula Sangat Tinggi - JPNN.COM

jpnn.com, JAKARTA - Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat (NTB) meminta masyarakat ikut mengawasi penggunaan produk kental manis. Pengawasan terhadap produk kental manis tersebut perlu melibatkan banyak pihak mengingat masih banyaknya masyarakat yang belum memahami kandungan serta kegunaan kental manis.

“Karena itu kami mohon bantuan kepada masyarakat dan juga media, kalau menemukan yang seperti itu (kental manis dikonsumsi sebagai minuman susu, red) segera dilaporkan. Kita perbaiki kesalahpahaman yang berakibat pada gizi anak,” ujar Kepala Dinas Kesehatan NTB dr. Nurhandini Eka Dewi baru-baru ini.

Sebagaimana diketahui kental manis atau yang sering juga disebut susu kental manis (SKM) adalah bagian dari produk susu. Namun memiliki kandungan protein dan susu yang sangat rendah. Sementara kandungan gulanya sangat tinggi.

Sejatinya, produk ini adalah bahan tambahan dalam makanan ataupun sebagai penambah cita rasa makanan dan minuman atau topping.

Masalah timbul saat produk ini diasumsikan sebagai susu yang bergizi untuk dikonsumsi anak dan balita. Bertahun-tahun kental manis dicitrakan sebagai susu yang mengakibatkan terbentuknya persepsi di masyarakat bahwa kental manis adalah susu.

BACA JUGA: Sering Makan Ikan Asin Bisa Picu Penyakit Kanker?

Meski sejak satu tahun yang lalu BPOM telah menyatakan kental manis dilarang dikonsumsi sebagai susu. Namun masih banyak yang mengkonsumsi kental manis sebagai susu untuk gizi anak. Sebagian karena terbiasa, sebagian karena memang tidak tahu atau tidak paham.

Asumsinya, orangtua memberi susu dengan harapan anaknya sehat. Yang diharapkan dari susu adalah protein. Nah kandungan protein akan full kalau kadar susunya juga full. Misalnya UHT, itu susunya full. Tapi kalau SKM, lebih banyak gulanya dari susu

"Kalau SKM dianggap minuman tunggal, orangtua merasa sudah memberi susu, padahal bukan susu. Karenanya ini menjadi beresiko, dari sisi gizi tidak tercukupi kebutuhannya,” jelas Nurhandini.

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar