Ingatkan PT Amman Mineral, Tokoh Sebut Sejarah Perang Sapugara Bisa Terulang

Ingatkan PT Amman Mineral, Tokoh Sebut Sejarah Perang Sapugara Bisa Terulang
Sejumlah tokoh dan aktivis asal Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menggelar acara diskusi solidaritas di tenda korban PT Amman Mineral Nusa Tenggara yang melakukan aksi mogok makan di Komnas HAM, Jakarta Pusat, Senin (19/12). Foto: Fathan

Selain itu, Mujib juga memastikan akan mengonsolidasikan warga KSB di Jakarta untuk melakukan aksi besar-besaran di PT. Amman Mineral.

“Kami akan kumpulkan massa, tunggu komando untuk kapan kami bergerak mengembalikan kedaulatan dan martabat orang Sumbawa yang dibodohi. Kita kepung saja PT Amman,” jelas dia.

Sementara itu, tokoh masyarakat KSB Amir Jawas mengatakan kehadiran PT. Amman di daerahnya hanya membuat kesenjangan sosial. Menurutnya, PT. Amman sudah menganggap masyarakat KSB bodoh.

“Bisa kami bakar itu perusahaan, kami tutup. Yang berhak itu bukan pusat, pusat boleh mengatur dari tambang itu, tetapi Kabupaten Sumbawa Barat yang harus mendapatkan yang lebih banyak,” jelas dia.

Dia menilai masyarakat KSB banyak yang berada di garis kemiskinan. Seharusnya, KSB mendapatkan banyak manfaat dari hasil yang diterima PT. Amman Mineral, tetapi faktanya mayoritas lari ke pusat.

“Jangan dianggap kami ini orang bodoh. Inilah saya pikir generasi muda jangan takut bela kepentingan masyarakat orang banyak,” kata dia.

Ketua Aliansi Masyarakat Anti Mafia Tambang (Ammanat) Muh. Erry Satriyawan mengatakan PT. Amman Mineral tidak memberikan manfaat secara sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat KSB. Dia menilai seharusnya PT Amman mendapatkan keuntungan sebesar Rp 7,4 triliun, tetapi manfaatnya tidak terasa bagi masyarakat KSB.

“Belum bicara tentang aktivitas pengadaan barang jasa, taruh saja tidak usah Rp 7,4 triliun, Rp 2 triliun saja di mana sepuluh persen kalian berdayakan masyarakat lokal Rp 200 miliar, itu banyak masyararakat terbantu karena ada aktivitas usaha,” jelas dia.

KSB memiliki sejarah Perang Sapugara, di mana warganya solid bergerak melawan tirani pada masa kolonial dulu.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News