ITB Menduga Klem Jembatan Aus

ITB Menduga Klem Jembatan Aus
ITB Menduga Klem Jembatan Aus
Kemungkinan penyebab lain adalah lemahnya baja yang menjadi rangka dek jembatan, sehingga patah ketika mendapat beban yang berat. Dek jembatan yang diatasnya ditutup aspal jalan tersebut seharusnya kuat, namun ringan dan aerodinamis. Ini untuk menghindari jembatan terlalu berat, sehingga tidak mampu ditanggung oleh kabel vertikal.

Selain sisi struktur, tim juga akan melihat sisi operasionalnya jembatan. Ini disebabkan tipe jembatan gantung sangat sensitif dengan gerakan vertikal dan torsional. Jika salah satu sisi jembatan tertarik atau tertekan beban berat seperti terpaan angin kencang atau kendaraan dengan beban yang berat, jembatan bisa melintir lalu roboh.

Karena itu, tim akan melihat apakah ada efek dari penutupan arus lalu-lintas di salah satu sisi jembatan, sehingga  karena akan dilakukan pemeliharaan terhadap kelenturan dan kestabilan jembatan.  "Kita akan melihat dari awal perencanaan jembatan. Apakah ada masalah aerodinamik, apakah ada torsional efek, apakah karena overload. Semuanya harus dikaji. Yang jelas, kalau hanger tidak putus artinya sudah menyalahi kaidah teknik sipil," tegasnya.

Untuk mencegah kejadian tersebut terulang, Bambang Boediono meminta Kementerian Pekerjaan Umum mengevaluasi dua jembatan gantung lain, yakni Jembatan Barito di Kalimantan Timur dan Jembatan Mamberano di Papua. Jembatan Barito memiliki bentang tengah 230 meter dan Jembatan Mamberamo di Papua sejauh 235 meter. Sementara, jembatan Kertanegara II yang roboh kemarin memiliki bentang tengah terpanjang, yakni 270 meter. (wan)

JAKARTA - Institut Teknologi Bandung (ITB) akan menerjunkan tim Pusat Mitigasi Bencana untuk meneliti penyebab putusnya jembaran Kertanegara II di


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News