Kamis, 22 November 2018 – 17:48 WIB

ITB Menduga Klem Jembatan Aus

Rabu, 30 November 2011 – 05:35 WIB
ITB Menduga Klem Jembatan Aus - JPNN.COM

JAKARTA - Institut Teknologi Bandung (ITB) akan menerjunkan tim Pusat Mitigasi Bencana untuk meneliti penyebab putusnya jembaran Kertanegara II di Tenggarong, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Tim ITB akan bekerjasama dengan Polri untuk meneliti penyebab ambruknya jembatan yang baru berusia sepuluh tahun tersebut pada Sabtu (26/11).

Guru Besar Rekayasa Struktur ITB Bambang Budiono mengatakan, ada banyak penyebab runtuhnya jembatan gantung yang selama ini menjadi ikon Kutai Kertanegara tersebut. Salah satu dugaan yang paling kuat adalah lepasnya klem pengikat kabel-kabel gantung yang menghubungkan dek jembatan dengan kabel suspensi atau kabel utama penghubung dua tiang pancang.

Dugaan ini menguat karena di lapangan ditemukan fakta bahwa kabel-kabel gantung vertikal tersebut masih utuh dan ikut terjun ke sungai. Padahal, secara teknis, kabel vertikal tersebut seharusnya putus paling dulu sebelum dek jembatan rubuh. "Ini berarti masalahnya terjadi pada klem kabel," tutur Bambang ketika dihubungi, Selasa (29/11).

Bambang menegaskan, lepasnya klem tersebut bisa disebabkan karena klem sudah aus atau pemasangannya keliru. Bila klem sudah aus, ini berarti menyalahi pakem dalam rekayasa sipil yang mewajibkan komponen penyambung bahan harus lebih kuat dibandingkan bahan yang disambung.

"Klem jembatan akan kami kirim ke Laboratorium Pekerjaan Umum di Cileunyi (Bandung) untuk diperiksa kekuatannya," papar Bambang.

Kemungkinan lain adalah pergeseran pondasi jembatan. Kabar yang menyebutkan pondasi jembatan tersebut empat kali ditabrak tongkang, terakhir pada Januari lalu, dimungkinkan menyebabkan tiang pancang bergeser sehingga keseimbangan jembatan goyah.

"Tiang pancang pylon (menara jembatan) dengan tipe jembatan gantung seharusnya dilindungi dengan beton, sehingga kapal tidak langsung menabrak pondasi," tuturnya.

Faktor penyebab runtuhnya jembatan lainnya adalah kekencangan kabel suspensi atau kabel utama yang menjadi tumpuan kabel-kabel gantung. Kabel utama tersebut tidak boleh kendur karena fungsinya sangat vital, yakni menyalurkan beban kendaraan yang melintas berikut berat dek jembatan melalui kabel-kabel vertikal ke pylon jembatan.

Kemungkinan penyebab lain adalah lemahnya baja yang menjadi rangka dek jembatan, sehingga patah ketika mendapat beban yang berat. Dek jembatan yang diatasnya ditutup aspal jalan tersebut seharusnya kuat, namun ringan dan aerodinamis. Ini untuk menghindari jembatan terlalu berat, sehingga tidak mampu ditanggung oleh kabel vertikal.

Selain sisi struktur, tim juga akan melihat sisi operasionalnya jembatan. Ini disebabkan tipe jembatan gantung sangat sensitif dengan gerakan vertikal dan torsional. Jika salah satu sisi jembatan tertarik atau tertekan beban berat seperti terpaan angin kencang atau kendaraan dengan beban yang berat, jembatan bisa melintir lalu roboh.

Karena itu, tim akan melihat apakah ada efek dari penutupan arus lalu-lintas di salah satu sisi jembatan, sehingga  karena akan dilakukan pemeliharaan terhadap kelenturan dan kestabilan jembatan.  "Kita akan melihat dari awal perencanaan jembatan. Apakah ada masalah aerodinamik, apakah ada torsional efek, apakah karena overload. Semuanya harus dikaji. Yang jelas, kalau hanger tidak putus artinya sudah menyalahi kaidah teknik sipil," tegasnya.

Untuk mencegah kejadian tersebut terulang, Bambang Boediono meminta Kementerian Pekerjaan Umum mengevaluasi dua jembatan gantung lain, yakni Jembatan Barito di Kalimantan Timur dan Jembatan Mamberano di Papua. Jembatan Barito memiliki bentang tengah 230 meter dan Jembatan Mamberamo di Papua sejauh 235 meter. Sementara, jembatan Kertanegara II yang roboh kemarin memiliki bentang tengah terpanjang, yakni 270 meter. (wan)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar