Rabu, 22 Mei 2019 – 18:45 WIB

Jangan Coba-coba Gertak Prabowo

Kamis, 22 Mei 2014 – 10:13 WIB
Jangan Coba-coba Gertak Prabowo - JPNN.COM

JAKARTA - Di mata sejumlah sejawatnya, calon presiden Prabowo Subianto merupakan pribadi yang mengagumkan karena memiliki jiwa patriotik tinggi, pantang menyerah dan memiliki perhatian yang tinggi pada bawahan. Penilaian tersebut disampaikan oleh mantan Kasum TNI Letnan Jenderal TNI (Purn) Suryo Prabowo, dan mantan Asintel Pangkostrad, Mayor Jenderal TNI (Purn) Djoko Susilo.

"Jiwa patriotik Prabowo itu bagi saya luar biasa, sangat mengagumkan. Hati dan isi kepalanya cuma ada Indonesia. Saya kaget dan terkesima, tiap kali mendengar lagu Indonesia Raya, Prabowo langsung berdiri sigap mengambil sikap sempurna. Ini mengingatkan saya pada pasukan Jepang yang selalu hening dan hormat jika lagu kebangsaan mereka, Kimigayo dinyanyikan walaupun oleh seorang anak kecil," kata Suryo Prabowo, kepada wartawan, di Jakarta, Kamis (22/5).

Selain itu lanjutnya, Prabowo juga tipikal orang yang pantang menyerah tercermin dalam berbagai prestasi yang diraihnya.

"Dunia mengakui, tidak mudah menaklukkan puncak tertinggi di Gunung Everest. Dengan tekad yang kuat pada tahun 1997 Tim Nasional Indonesia terdiri dari Kopassus, Wanadri, FPTI dan Mapala UI yang diprakarsai Prabowo berhasil mengibarkan merah putih di puncak Gunung Everest," jelas pemegang bintang Adhimakayasa Akademi Militer tahun 1976.

Bahkan, Prabowo pun dia kenal sangat perhatian pada kesejahteraan prajuritnya. Prabowo, katanya, memiliki jiwa sosial yang tinggi. Hal ini mungkin tidak banyak diketahui orang tapi setiap prajurit yang pernah dipimpinnya pasti merasakan hal itu.

"Hingga saat ini banyak prajurit mantan anak buahnya terutama yang cacat karena membela merah putih sampai sekarang dibantu dan bekerja di perusahaannya," ujarnya.

Senada, Djoko Susilo mengatakan, Prabowo yang dikenalnya bukan tipikal orang yang gampang digertak. Pada tahun 1996 saat menjadi Komandan Kopassus, Prabowo memimpin langsung operasi pembebasan sandera Mapenduma, di Papua. Saat itu diplomasi pembebasan sandera berlangsung alot dan menemui jalan buntu. Tidak jarang penyandera yang berada di atas angin menggertak.

"Akhirnya operasi tersebut berhasil menyelamatkan nyawa 10 peneliti Ekspedisi Lorentz 95, tujuh orang di antaranya peneliti dari Inggris, Belanda dan Jerman. Di kalangan pasukan elit dunia, nama Kopassus menjadi sangat harum dan disegani," kenangnya.

SHARES
TAGS   pilpres
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar