Jenderal Dudung Bicara soal Cara Berdoa, MUI Merespons Begini

Jenderal Dudung Bicara soal Cara Berdoa, MUI Merespons Begini
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) MUI Bidang Hukum dan HAM Ikhsan Abdullah menyebutkan bahwa secara prinsip KSAD Jenderal Dudung Abdurachman tidak salah. Foto: Dispenad

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) MUI Bidang Hukum dan HAM Ikhsan Abdullah angkat bicara terkait pernyataan KSAD Jenderal Dudung Abdurachman soal cara berdoa.

Ikhsan menyebutkan bahwa secara prinsip KSAD Jenderal Dudung Abdurachman tidak salah ketika eks Pangkostrad itu mengaku biasa berdoa dengan bahasa Indonesia.

Menurut dia, umat tidak perlu memaksakan diri berdoa dengan bahasa Arab. Terlebih lagi, jika umat tidak memahami bahasa tersebut.

"Konsepnya dalam berdoa itu ialah yang kita pahami. Jadi, kita tidak perlu memaksakan berdoa dengan bahasa Arab," kata Ikhsan saat dihubungi, Jumat (3/12).

Direktur Indonesia Halal Watch (IHW) itu bahkan menuturkan bahwa umat bisa menggunakan bahasa selain Indonesia untuk berdoa. Misalnya memakai bahasa Jawa atau Sunda.

"Kalau tidak bisa bahasa Indonesia, ya, bahasa Jawa atau Sunda atau lain. Tidak ada masalah," ujar Wasekjen MUI Ikhsan.

Namun, kata dia, ucapan Jenderal Dudung menjadi masalah karena alumnus Akademi Militer (Akmil) 1988 itu berbicara di luar keahlian.

Pasalnya, eks Gubernur Akmil itu lama berkecimpung di militer dan bukan sosok yang serius mendalami agama.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) MUI Bidang Hukum dan HAM Ikhsan Abdullah menyebutkan bahwa secara prinsip KSAD Jenderal Dudung Abdurachman tidak salah ketika eks Pangkostrad itu mengaku biasa berdoa dengan bahasa Indonesia.