Jenderal (Purn) Gatot Singgung Pejabat Boneka Hingga Tumbuhnya Oligarki

Jenderal (Purn) Gatot Singgung Pejabat Boneka Hingga Tumbuhnya Oligarki
Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo saat menghadiri deklarasi KAMI di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (18/8). Foto: YouTube/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Presidium Komite Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Gatot Nurmantyo melihat tren perang saat ini sudah berubah dari konvensional menjadi proksi.

Jenderal purnawirawan TNI ini mengatakan sebagai sebuah negara harus mengantisipasi model perang proksi itu.

Gatot sering mengangkat tema itu di sejumlah tempat. Salah satunya saat berdialog dengan civitas academica Universitas Indonesia pada 10 Maret 2014.

"Saya bicara soal proxy war yang telah menjadi suatu ancaman luar biasa terhadap kedaulatan suatu bangsa. Penguasaan negara oleh kekuatan yang lain, tidak lagi harus dengan fisik namun bisa pakai proksi," kata Gatot saat berorasi di acara Deklarasi KAMI di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa (18/8).

Mantan panglima TNI ini mencontohkan, perang proksi itu bisa berupa negara lain yang mengintervensi pemilu. Nantinya pemilu akan menghasilkan pejabat-pejabat yang proasing.

"Untuk pada saatnya pejabat tersebut bisa dikendalikan, bahkan menjadi boneka bagi kepentingan lain yang bukan tujuan kepentingan negara," kata Gatot.

Bahaya lain dari perang proksi ini, menurut Gatot, adalah tumbuh kembangnya oligarki. Kekuasaan dimainkan dan kelompok tertentu mengelola bahkan sampai memonopoli negara. Menurut Gatot, rakyat Indonesia yang akan dirugikan dalam posisi ini. 

"Mereka lakukan dengan topeng konstitusi. Apakah benar hari ini terjadi di negeri kita, adalah rakyat indonesia yang berhak menjawab," tegas Gatot. (tan/jpnn) 

Gatot Nurmantyo menyebut perang proksi telah mengintervensi pemilu dan melahirkan pejabat boneka serta oligarki.


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News