JPNN.com

Kader Partai Golkar Diminta Asah Ketajaman Wawasan

Rabu, 14 Desember 2016 – 17:08 WIB Kader Partai Golkar Diminta Asah Ketajaman Wawasan - JPNN.com

JAKARTA - Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto meminta seluruh kader untuk mengasah ketajaman wawasan dan pengetahuan. Hal ini sangat penting, terutama untuk para anggota legislatif dari tingkat pusat hingga tingkat kabupaten/kota agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya sebagai anggota Dewan dengan baik, apakah itu fungsi legislasi, anggaran maupun fungsi pengawasan.

“Para Anggota Fraksi Partai Golkar di DPRD I (provinsi) dan II (kabupaten/kota) merupakan ujung tombak partai dalam memajukan dan memenangkan Golkar dalam setiap pemilu. Karena itu, anggota DPRD harus terus mengasah ketajaman wawasan dan pengetahuannya serta meningkatkan kemampuan dan ketrampilannya,” kata Setya Novanto kepada seluruh kader partai yang saat ini mengikuti Workshop Nasional Anggota Fraksi DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota di Jakarta, Rabu (14/12).

Dalam rilis menyebutkan kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Redtop Pacenongan, Jakarta Pusat dan diikuti oleh 820 peserta dari seluruh Indonesia.

Dalam pengarahannya, Setya Novanto menegaskan tiga fungsi dewan yang mesti diketahui oleh seluruh kader beringin tersebut. Di bidang legislasi, Novanto menekankan pentingnya memperhatikan kualitas dalam pembuatan perda.

Dia mencontohkan buruknya kualitas Perda yang direvisi oleh pemerintah pusat, seperti 3143 perda yang tidak pro investasi dan menghambat perekonomian di daerah.

"Kader-kader Partai Golkar harus mampu membuat Perda-perda yang berkualitas untuk kemajuan pembangunan di daerah," katanya.

Di bidang anggaran, menurut Ketua DPR RI ini, program-program pro rakyat harus diutamakan. Seperti program pengentasan kemiskinan, pemberdayaan UMKM, perbaikan pelayanan kesehatan dan pendidikan, serta perbaikan infrastruktur dasar untuk rakyat miskin.

Novanto juga memberikan apresiasi kepada Fraksi Partai Golkar di DPR RI yang telah berjuang meningkatkan transfer dana ke daerah menjadi Rp 749 triliun (36,8 %).

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...