Kamala

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Kamala
Kamala Harris. REUTERS/Evelyn Hockstein

Dalam wawancara itu Kamala tidak menjawab pertanyaan mengenai krisis Afghanistan. Ketika seorang wartawan menanyakan soal itu, Kamala mengacuhkannya. Hal ini semakin membuat publik mempertanyakan kompetensi Kamala. Dan puncaknya terlihat dari hasil survei terbaru yang menyimpulkan Kamala tidak layak menjadi presiden.

Kamala sebenarnya punya potensi menjadi media darling bagi pers Amerika. Latar belakang etnisnya unik, dia cerdas dan pintar, serta penampilannya menarik.

Ia memecahkan rekor Amerika yang selama merdeka pada 1776 belum pernah punya presiden atau wapres perempuan.

Media memanggilnya dengan nama depan ‘’Kamala’’. Hal ini sangat jarang, atau tidak pernah terjadi. Media pasti memanggil presiden atau wapres dengan ‘’surname’’ atau nama keluarga.

Media punya sapaan akrab dengan memakai singkatan nama, seperti JFK untuk John Fitzgerald Kennedy, FDR untuk Franklin Delano Rosevelt, dan lain-lain.

Belum pernah ada presiden dan wapres yang disebut dengan nama depan. Kamala adalah satu-satunya. Hal ini menunjukkan bahwa Kamala punya potensi menjadi media darling yang kutipan-kutipannya sangat ditunggu publik.

Kamala punya potensi brand politik yang besar. Namun, sayang, Kamala tidak menunjukkan kinerja seperti yang diharapkan. Krisis Afghanistan--yang meninggalkan ruang kosong karena absennya Biden--seharusnya bisa diisi Kamala dengan memainkan peran yang tepat.

Isu utama mengenai perlindungan perempuan di Afghanistan seharusnya paling cocok untuk ditangani oleh Kamala.

Konon Kamala Harris malah memperburuk situasi. Ia ikut-ikutan menghilang selama seminggu terakhir terjadinya krisis.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News