KEK Batam Dinilai Cuma Untungkan Perusahaan Raksasa

KEK Batam Dinilai Cuma Untungkan Perusahaan Raksasa
Ketua Tim FTZ plus plus Soerya Respationo, Ketua Apindo, Kadin Kepri, Kadin Batam, dan para pengusaha memberikan keterangan pada acara jumpa pers menyikapi perkembangan penolakan KEK di Hotel Aston Selasa (15/5). Foto: dok.BP

jpnn.com, BATAM - Sejumlah pengusaha di Batam konsisten menentang penerapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Batam, Kepulauan Riau.

Pasalnya, KEK dinilai hanya akan menguntungkan perusahaan raksasa yang memiliki nilai investasi di atas Rp 500 miliar.

Sebaliknya sangat merugikan bagi perusahaan kecil dan menengah.

"Dalam persyaratan KEK, setiap perusahaan harus memiliki nilai investasi lebih dari Rp 500 miliar. Artinya, hanya perusahaan yang besar yang dapat fasilitas KEK," kata ketua Kadin Batam, Jadi Rajagukguk, seperti dilansir Batam Pos (Jawa Pos Group) hari ini.

Dan untuk menjadi KEK, itu pun tidak otomatis. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Akan dikaji nanti apa produk unggulan dari sebuah perusahaan dan beberapa persyaratan lainnya.

"Akan dilihat juga bahan baku yang digunakan apakah mayoritas dari produk lokal atau tidak. Jadi tidak langsung otomatis mendapatkan fasilitas KEK itu," katanya.

KEK ini juga tidak langsung bersentuhan dengan sektor ril karena hanya berlaku untuk perusahaan yang ada di kawasan. Jadi semua yang ada di luar kawasan, maka tidak akan mendapatkan fasilitas apa-apa.

"Makanya KEK ini harusnya diterapkan di daerah baru yang belum ramai penduduk dan investasi. Di daerah Rempang-Galang ini masih bisa atau di pulau lainnya," katanya.

Sejumlah pengusaha di Batam konsisten menentang penerapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Batam, Kepulauan Riau.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News