Kemarau, Beli Air Untuk Mandikan Jenazah

Kemarau, Beli Air Untuk Mandikan Jenazah
Kemarau, Beli Air Untuk Mandikan Jenazah
Ia menambahkan, untuk mengalirkan air dari sawah-sawah terdekat warga harus melakukannya secara swadaya. Bahkan, agar tiap rumah dapat kebagian air, warga diminta untuk merogoh kocek sebesar Rp200 ribu per kepala keluarga (KK).

Iin (30), salah seorang warga lainnya mengatakan, warga setempat sudah sejak empat bulan lalu mulai mengkonsumsi air sawah. Pasalnya, beberapa sumber mata air Tarengtong di daerah Cikamuning Tonggoh, sudah kering akibat musim kemarau yang panjang. Sedangkan, air sawah merupakan satu-satunya sumber air yang tersisa dan masih belum kering di kampung tersebut.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga memperolehnya dengan perjuangan keras. Biasanya warga kampung tersebut mengambil air dari mata air Cikaci yang berada sekitar dua kilometer dari kampung tersebut. Warga biasanya berbondong-bondong mendatangi mata air itu dengan membawa ember atau jerigen untuk menampung air dan membawanya pulang ke rumah. "Tapi sejak musim kemarau, sumber mata air itu sudah tak mengalir lagi. Warga sempat mengambil air ke sungai, tapi sungai pun mulai kering. Tempatnya juga jauh," kata Iin

Dijelaskannya, sejak puluhan tahun lalu warga yang berada di wilayah penambangan batu Padalarang selalu mengandalkan mata air Tarengtong sebagai sumber mata air utama warga Cikamuning.  Mata air tersebut biasanya digunakan warga untuk berbagai kebutuhan mulai dari mencuci, mandi hingga memasak (MCK).

PADALARANG--Ratusa n warga RW 01, Kampung Cikamuning, Desa Tagog Apu, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), dilanda krisis air parah

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News