Kematian Merah Masih Sisakan Trauma

Kematian Merah Masih Sisakan Trauma
Kematian Merah Masih Sisakan Trauma
Sejak terungkapnya tiga aksi pembunuhan yang dilakukan Merah pada 11, 15 dan 19 Maret lalu, ketakutan menyelimuti Prancis. Khususnya di Toulouse dan Mountauban yang menjadi lokasi pembunuhan. Kematin Merah di tangan aparat pasca baku tembak 30 jam pada 22 Maret pun tak mampu mengusir ketakutan warga. Bahkan, ketegangan semakin meningkat karena khawatir akan terjadi serangan balas dendam.

"Kita harus memahami bahwa trauma yang dirasakan warga Mountauban dan Touluse adalah trauma kita semua," ungkap Sarkozy. Dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio Europe 1, suami Carla Bruni itu mengatakan bahwa trauma yang menyelimuti Prancis, paling tidak, sama dengan trauma yang dirasakan warga Amerika Serikat (AS) pasca serangan 11 September 2001 atau 9/11.

Karena itu, dia mengimbau rakyat untuk mendukung penuh operasi antiteror yang masih akan berlangsung tersebut. "Ancaman ini tidak sekedar muncul di Toulouse, tapi di seluruh pelosok Prancis," kata Sarkozy. Dia yakin, Merah memiliki banyak teman yang sama-sama militan di Prancis. Jika anggota kelompok radikal itu sampai tertangkap, dia mengaku tak akan segan mengusir mereka dari Prancis.

Dalam kesempatan itu, Sarkozy kembali menegaskan bahwa keputusan pemerintah untuk melarang sejumlah ulama muslim memasuki Prancis, sebagai tindakan positif. "Kami tidak menerima kedatangan mereka yang ajarannya bertentangan dengan republik ini," ungkapnya. Tiga ulama yang dilarang masuk Prancis itu adalah Ayed Bin Abdallah al-Qarni, Abdallah Basfar, Safwat al-Hijazi dan Akrama Sabri. (AP/AFP/BBC/hep/ami)

PARIS - Aksi berantai Mohammed Merah di Kota Toulouse dan Kota Montauban, Midi-Pyr"n"es Region, masih menyisakan trauma. Kepolisian Prancis


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News