Kemendikbudristek Sebut Masih Ada Ortu dan Kepsek Tidak Paham soal Asesmen Nasional 

Kemendikbudristek Sebut Masih Ada Ortu dan Kepsek Tidak Paham soal Asesmen Nasional 
Kemendikbudristek menyebutkan masih ada orang tua dan kepsek menganggap Asesmen Nasional adalah pengganti UN. Ilustrasi sekolah: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Kemendikbudristek terus mendorong kesiapan pelaksanaan asesmen nasional (AN) melalui berbagai sosialisasi yang melibatkan banyak pihak.

Mulai siswa, guru, dan kepala sekolah, tetapi juga orang tua yang putra dan putrinya akan mengikuti AN.

Direktur Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Ditjen Pauddasmen) Kemendikbudristek Sri Wahyuningsih mengatakan keberadaan AN dimaknai beragam, terutama oleh para orang tua.

Dia menyebut masih banyak kerisauan dan kecemasan yang muncul akibat pelaksanaan AN, terutama di bidang sarana dan prasarana karena AN dilakukan berbasis komputer. 

“Masih ada orang tua yang menganggap AN merupakan pengganti ujian nasional, dan kepala sekolah yang masih berpikir memberikan pelajaran tambahan untuk mendapatkan hasil AN yang baik," kata Sri Wahyuningsih, Jumat (10/9).

Menurutnya dalam prosedur operasional standar implementasi AN, semua sudah dijelaskan secara teknis, bahwa AN bukanlah ujian.

AN dilakukan sebagai dasar untuk mendapatkan informasi konkret terhadap kualitas pendidikan, baik di level sekolah maupun kabupaten, kota, dan provinsi. 

“Dengan AN, kita dapat mempersiapkan perencanaan pendidikan yang lebih baik berdasarkan hasil yang didapatkan nanti. Baik sekolah, pemda, maupun pemerintah pusat, bersinergi mendorong percepatan kualitas SDM unggul di masa yang akan datang melalui AN,” jelas Ning, sapaan akrab Sri Wahyuningsih.

Kemendikbudristek menyebutkan masih ada orang tua dan kepsek menganggap Asesmen Nasional adalah pengganti UN