Keramat Sungai Koloimba, Legenda Wanita Melahirkan Buaya

Keramat Sungai Koloimba, Legenda Wanita Melahirkan Buaya
Legenda Sungai Koloimba masih dipercaya menjadi tempat sakral. Foto: dok/Kendari Pos

jpnn.com - SUNGAI Koloimba masih dianggap sakral oleh banyak masyarakat, terutama di tempat sungai itu berada, desa Wesalo, Kecamatan Lalolae, Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Di sungai tersebut, percaya atau tidak, masih dipercaya bisa menjadi media untuk menyampaikan pesan dan harapan kepada alam gaib. Pada hari-hari tertentu sebagian masyarakat hingga kini masih melakukan ritual di sana dengan membawa sesajen. Ya, ini soal tradisi kuno, warisan budaya, dan kesakralan (keramat).

Alkisah, seorang wanita melahirkan seekor buaya, karena hubungan terlarang dengan saudara kandungnya.

Sebelum agama tersebar di Wesalo, warga setempat masih mempercayai tempat-tempat tertentu yang dianggap sakral. Sebuah tradisi lisan yang disebut Mesosangia Mosehe Wonua yang berarti meminta pada sang pemilik kampung, kini masih dipercaya sebagian warga setempat. 

"Warga Wesalo hingga kini percaya bila pada zaman dahulu kala, pria bernama Kolo melakukan hubungan layaknya suami istri kepada sang adik, Imba," ungkap Fardin, salah seorang tokoh masyarakat di Desa Wesalo, seperti dikutip dari Kendari Pos, Selasa (9/2).

Dia bercerita, kala itu dua anak manusia yang berasal dari darah yang sama tinggal di sebuah desa yang kini disebut Kecamatan Lalolae. Imba memang kembang desa karena tak ada seorang wanita yang mengalahkan kecantikannya. Olehnya itu, Kolo berikrar akan menikahi seorang wanita dengan syarat memiliki kecantikan wajah yang melebihi adiknya. Sayangnya, Kolo tak menemukan lawan jenis dengan paras yang menyerupai sang adik.

Akhirnya, Kolo memutuskan untuk hijrah di daerah lain dengan mimpi mencari wanita yang menyerupai wajah sang adik untuk dipersunting. Selama beberapa tahun mencari wanita yang didambakannya, Kolo pun kembali ke kampung halamanya tanpa pendamping. Sebab dirinya tidak juga menemukan wanita secantik adiknya. 

Adik Kolo bekerja sebagai pengrajin anyaman. Berbagai jenis anyaman mampu dibuatnya dengan tangan yang cekatan. Suatu hari, adik Kolo kehabisan bahan mentah untuk membuat anyaman tikar atau semacamnya. Imba (adik Kolo) pun memutuskan untuk mencari daun tio-tio, sebutan warga lokal yang dipakai sebagai bahan anyaman. 

SUNGAI Koloimba masih dianggap sakral oleh banyak masyarakat, terutama di tempat sungai itu berada, desa Wesalo, Kecamatan Lalolae, Kolaka, Sulawesi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News