Rabu, 12 Desember 2018 – 05:19 WIB

Kerelaan Kader PSI Tak Digaji Layak Dicontoh Partai Lama

Sabtu, 08 Desember 2018 – 21:45 WIB
Kerelaan Kader PSI Tak Digaji Layak Dicontoh Partai Lama - JPNN.COM

Kepala Humas PGI Jeirry Sumampow. Foto : dok jpnn

jpnn.com, JAKARTA - Koordinator Komite Pemilih Indonesia (TePi) Jeirry Sumampouw memuji keberanian para keder PSI yang rela tidak digaji jika kinerjanya buruk di DPR nanti. Menurutnya, sikap kader partai anyar itu menunjukkan semangat yang sangat positif.

"Menurut saya yang begini-begini kita sambut positif. Saya kira kalau kita lihat PSI memang kan partai ini mau tampil beda dengan partai partai lain, dia mau mencitrakan diri sebagai partai berbeda," kata Jeirry saat dihubungi wartawan, Sabtu (8/12).

Dia menambahkan, langkah itu sebagai pembeda dengan partai lama. Jika hanya mengulang pola lama, PSI pasti sulit mendapat simpati dari pemilih.

"Jadi menurut saya ini baik partai baru punya komitmen seperti ini punya keprihatinan atau melihat persoalan yang terjadi di parlemen dan mungkin bisa dibayangkan anggota mereka tergoda atau terjebak di kultur parlemen yang selama ini banyak dinilai buruk," tuturnya.

Lanjutnya, untuk keluar dari kinerja DPR yang selama ini dinilai buruk, PSI mesti membangun komitmen kuat dengan anggota anggotanya. Sikap PSI itu, kata Jeirry juga sebagai inovasi yang diinginkan publik.

"Jadi sekarang publik, pemilih kita ini butuh inovasi dari partai partai untuk memperlihatkan atau membangun harapan mereka untuk pemilu. Jadi bagaimana memang menampilkan, mencitrakan diri kepada publik untuk memberi pilih untuk pemilih bahwa ini bukan pemilu sebagaimana yang dulu," sambungnya.

Meski demikian, Jeirry minta partai besutan Grace Natalie tersebut membuat mekanisme yang jelas bagaimana indikator guna mengukur buruknya kinerja anggota DPR. Menurutnya ukuran buruk kinerja anggota DPR tak bisa semata mata digeneralisasi.

"Sekarang siapa yang akan menentukan kriterianya, bagaimana menentukan penilaiannya, sejauh mana publik terlibat dalam penilaian itu untuk mengukur dan menempatkan penilaian itu secara objektif, karena bisa saja kalau penilaian itu terlalu subjektif takut janji janji kosong," ujarnya.

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar