Rabu, 14 November 2018 – 22:23 WIB

Kisah Ady Setyawan Bukukan Peristiwa Heroik Surabaya

Senin, 20 Agustus 2018 – 16:10 WIB
Kisah Ady Setyawan Bukukan Peristiwa Heroik Surabaya - JPNN.COM

jpnn.com, SURABAYA - Ady Setyawan dan Marjolein van Pagee adalah cucu tentara yang bertikai pada perang kemerdekaan Indonesia. Mereka dipertemukan delapan tahun lalu oleh hal yang sama: sejarah. Kolaborasi keduanya menghasilkan buku berjudul Surabaya di Mana Kau Sembunyikan Nyali Kepahlawananmu? 


BEGITU banyak pejuang kemerdekaan yang dieksekusi di Penjara Koblen Bubutan pada 1946-1948. Saksinya Grijzenhout, tentara Belanda yang bertugas di penjara itu. Hatinya selalu perih mengingat setiap malam ada pejuang Indonesia yang menemui ajal di tangan algojo Belanda. 

Dia marah dengan kekejaman itu. Dia tidak habis pikir, bagaimana Belanda yang pernah dijajah Jerman semasa PD II melakukan hal yang sama terhadap Indonesia. Grijzenhout tahu bahwa peperangan hanya akan melahirkan kekejian satu manusia terhadap manusia lainnya. Dia juga marah terhadap teman-temannya yang berlaku kejam kepada pejuang Indonesia. Tapi, dia tak bisa berbuat banyak untuk menghentikannya. Dia hanya bisa melampiaskan kekesalannya dengan membuang sepatu-sepatu regu tembak itu.

Veteran Belanda yang hafal lagu Indonesia Raya itu juga pernah ditugasi menjadi algojo. Tapi, di Madiun. Dia lakukan perintah tersebut. Dor... suara senjata api itu terdengar hingga ratusan meter. Peluru melesat ke udara. Itu tembakan palsu. Hanya pura-pura. Sengaja. Tentara Indonesia tersebut dia lepaskan, lalu berlari sekencang-kencangnya. Untuk menebus rasa bersalah bangsanya, dia berteman dengan banyak warga Indonesia.

Grijzenhout kini menetap di Zeeland. Sebuah provinsi di barat daya Belanda. Berbatasan dengan Belgia. Ady menempuh perjalanan udara selama 20 jam untuk menggali kisahnya. Begitu sampai di Belanda, veteran itu tak mau ditemui. Dia trauma ketika melihat wajah orang Indonesia. Peristiwa-peristiwa mengerikan tersebut bakal membanjiri pikirannya lagi. 

Namun, dia mau diwawancarai. Untunglah, ada Marjolein. Jadi, saat sesi wawancara itu, Ady tidak ikut. Tak masalah karena pada akhirnya Marjolein bisa mengumpulkan kisah-kisah tersebut dengan utuh. Ternyata, Grijzenhout juga punya koleksi foto. Salah satunya foto Wardi. Warga Indonesia yang dulu menjadi sahabatnya. "Dia ingin tahu bagaimana kabar Wardi sekarang, " ujar Ady saat ditemui di kediamannya, Medayu Utara, Jumat (17/8).

Sayangnya, kisah Grijzenhout belum dimasukkan dalam buku yang diluncurkan tadi malam. Kisah itu bakal diterbitkan di edisi kedua pada 10 November. Namun, masih banyak kisah menarik lainnya dari kesaksian para veteran Belanda. Ada tujuh saksi pelaku sejarah yang dia wawancarai selama menetap di Belanda hampir sebulan.

Ady dan Marjolein juga menghabiskan waktu untuk mengumpulkan arsip di perpustakaan Leiden. Ada ribuan arsip dan catatan dari kedua pihak yang bertempur. Arsip serupa mereka dapatkan dari Dewan Harian Daerah (DHD) 45 Surabaya. 

Pendiri komunitas Roodebrug itu membutuhkan waktu satu tahun untuk menyalin ribuan arsip tersebut. Sampai-sampai dua mesin scanner-nya rusak. Dari arsip itu, keduanya menemukan sisi-sisi lain dari peristiwa heroik di Surabaya yang selama ini tidak dikisahkan. 

Salah satunya peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato atau kini bernama Hotel Majapahit. Mereka menuliskan detail peristiwa itu dari berbagai kesaksian para pelaku sejarah yang berdiri dekat dengan tiang bendera. Ada beberapa versi tentang kisah perobekan tersebut. "Kami siap didebat kalau ada orang yang ngaku-ngaku sebagai perobek bendera itu," jelasnya.

Sayang, banyak monumen bersejarah itu yang tidak terawat. Atau bahkan dihancurkan. Misalnya, perobohan bangunan cagar budaya Rumah Radio Bung Tomo dua tahun silam. Itulah yang kemudian mendasari Ady memberi judul bukunya, Surabaya di Mana Kau Sembunyikan Nyali Kepahlawananmu?, sebagai bentuk protes atas kelalaian modernitas melindas sejarah. (hen/c6/ano)

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar