Kisah Gatot, Lari Empat Hari Terkumpul Dana Rp 341 Juta

Kisah Gatot, Lari Empat Hari Terkumpul Dana Rp 341 Juta
Gatot Sudariyono saat berlatih lari di SUGBK Jakarta, Sabtu (9/6/18). Foto: Chandra Satwika/Jawa Pos

”Pada 2011 saya mau cari olahraga, karena waktu itu saya mau masuk usia 50,” ujar Gatot memulai ceritanya. Saat itu, September 2011, dia sedang berada di Jepang. Dia melihat ribuan orang yang sedang berkerumun mengikuti Tokyo Marathon.

Dari situlah dia mulai tertarik dengan lari. Dia begitu antusias berselancar di dunia maya dan menemukan ternyata ada sekitar 700 city marathon di seluruh dunia. Lari sudah jadi gaya hidup.

Tapi, secara pribadi, dia punya alasan berbeda. ”Waktu itu saya 85 (kg), tinggi 165 (cm), gendut banget kan. Sekarang 63 atau 64,” kata Gatot kembali tersenyum. Dia langsung mencoba ikut ajang BII Bali Marathon (BBM) pada April 2012. Dia hanya punya waktu delapan bulan untuk persiapan.

Mula-mula dia hanya berani berjalan kaki setiap hari dan menjalani diet. Tepat saat usianya ke-50 pada 24 Desember 2011, dia pun membuat peringatan dengan berjalan kaki mengelilingi GBK 50 kali. Setelahnya, dia belajar berlari jarak jauh. ”Dari pukul 06.00 pagi sampai 18.00. Saya ingat betul itu,” ungkap dia.

Merasa persiapan cukup, dia pun langsung ikut BBM kelas full marathon 42 km dan dilibas dengan waktu 5 jam 43 menit. Satu yang dia sadari, ternyata berlari itu membuat candu. Dia pun ikut jadi peserta Kuala Lumpur Marathon dan Singapura Marathon pada 2012.

Tahun berikutnya, dia ikut Jakarta Marathon, Bali Marathon, Singapura Marathon. Pada 2014 dia mengikuti Singapura Marathon dan Jakarta Marathon. ”Ini cerita orang mulai tuman gitu, Mas,” ujarnya.

Tapi, dia sempat berhenti tidak ikut city marathon pada 2015. Penyebabnya, dia merasa waktu tempuhnya untuk menyelesaikan full marathon tidak pernah kurang dari 5 jam. Dia pun mencari cara agar waktu tempuhnya lebih baik lagi. Salah seorang rekannya bercerita, bila ingin mempersingkat waktu tempuh, dia mesti berlari di tempat dingin sampai sekitar 10 derajat Celsius.

Gatot pun mendaftar ke New York Marathon. Tapi, ternyata gagal karena jumlah peserta yang terbatas. Namun, dari situlah dia mulai mengenal ada lari untuk charity atau amal. Jadi, pelari yang ingin ikut city marathon itu beramal ke yayasan untuk bisa mendapat tiket sebagai peserta lari.

Gatot Sudariyono lari sendiri Pantai Sindangbarang, Cianjur, menuju ke Pantai Ancol sejauh 230 km, selama empat hari.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News