Kisah Nayati, Saksi Hidup Penyerangan Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang

Aku Lihat Suamiku Dikeroyok, lalu Dia Menghilang

Kisah Nayati, Saksi Hidup Penyerangan Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang
Kisah Nayati, Saksi Hidup Penyerangan Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang
 

Meski Matori dikenal sebagai penganut Ahmadiyah, warga tak pernah mengusik dia, apalagi mengganggu. "Bagi kami, asal tidak mengumpulkan orang atau membuat pengajian sendiri, kami tidak akan mengganggu," kata Badriyah, yang diamini beberapa warga lainnya, saat mengobrol dengan Jawa Pos kemarin (8/2).     

 

Ketika kemarin Jawa Pos mendatangi rumah Matori, suasananya sepi mamring. Sejak pembantaian berdarah yang merenggut empat nyawa jamaah Ahmadiyah itu, semua anggota keluarga Matori menghilang bak ditelan bumi. "Saya pun hingga sekarang tidak tahu ke mana bapak saya pergi. Saya juga tidak tahu ke mana suami saya berada sejak penyerangan itu," tutur Nayati.

 

Perempuan 35 tahun itu adalah adik kandung Suparman. Sehari-harinya dia tinggal di rumah Matori bersama suaminya, Udin, 25. Rumah Matori hanya berjarak sekitar 10 meter dari rumah Suparman. Udin adalah suami ketiga Nayati. Dari tiga suami tersebut, Nayati dikaruniai empat anak.

 

"Saya sudah mencari suami saya (Udin) ke mana-mana, tapi nggak ketemu. Kata polisi, saya disuruh ke rumah sakit Serang. Tapi, itu kan jauh. Butuh  perjalanan setengah hari. Sementara saya nggak punya duit," ujar Nayati memelas.

Minggu pagi lalu (6/2) menjadi hari memilukan yang tak akan pernah dilupakan Nayati. Dia adalah salah seorang saksi hidup peristiwa penyerangan ribuan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News