Kamis, 13 Desember 2018 – 15:18 WIB

Lansia Bukan Masalah, Justru Potensi yang Harus Dimanfaatkan

Senin, 03 Desember 2018 – 14:00 WIB
Lansia Bukan Masalah, Justru Potensi yang Harus Dimanfaatkan - JPNN.COM

Banyak orang tidak sadar, termasuk warga Australia, soal keberadaan pangsa pasar yang berkembang pesat dan diperkirakan mencapai triliun dolar secara global.

Disebut sebagai "Silver Economy" atau "Ekonomi Perak", dengan menawarkan kesempatan kerja dan menargetkan konsumen yang berasal dari penduduk usia lanjut.

Dalam beberapa tahun mendatang, mulai dari pariwisata hingga perawatan kesehatan akan semakin diarahkan dan dipasarkan pada kelompok penduduk yang jumlahnya makin banyak ini.

Peluang besar penduduk lansia

Pengusaha perempuan asal Perth, Australia Barat, Natasha Winburn-Clarke adalah satu dari mereka yang memanfaatkan ekonomi di kalangan lanjut usia.

Mantan konsultan di bidang kuliner dan minuman anggur ini telah memperkerjakan warga berusia di atas 50 tahun untuk bisnis produk makanan beku.

Natasha memulainya empat tahun lalu ketika ia dan dua anaknya sedang sakit di rumah dan Natasha harus pergi ke supermarket untuk mencari makanan.

"Disana tidak ada yang saya inginkan untuk disajikan pada keluarga," katanya.

"Saya kemudian menyadari dengan cepat kurangnya makanan bermutu tinggi yang beku."

Dari pengalamannya itulah lahir perusahaan baru di bidang kuliner dengan menawarkan makanan bebas bahan pengawet. Ia menjual makanannya dari kawasan Cottesloe dan Applecross dekat kota Perth, Australia Barat.

Tidak hanya mempekerjakan warga lanjut usia, pelanggan dari kelompok umur tersebut juga jadi salah satu pangsa terbesarnya.

"Mereka yang berusia lebih dari 50 tahun yang membeli untuk dirinya sendiri, atau orang tua mereka yang sudah berusia 80 atau 90 tahun," ujarnya.

"... Mereka tidak mau repot menghabiskan berjam-jam untuk membuat masakan 'boeuf bourguignon', tapi mereka senang jika bisa membuat sesuatu yang menghasilkan uang dan mendapat makanan berkualitas tinggi."

Kekuatan generasi 'baby boomer'

Seiring penduduk warga Australia memiliki usia lebih panjang, dengan kekayaan di negara ini mayoritas dikuasai warga berusia di atas 55 tahun, pengeluaran mereka menjadi sangat potensial.

Komisi Eropa baru-baru ini memperkirakan di tahun 2020 nanti nilai belanja penduduk lanjut usia akan mencapai AU$ 20 triliun atau lebih dari Rp 200 ribu triliun

Tapi bukan hanya dalam membeli produk atau layanan.

Termasuk juga lapangan pekerjaan dan membuka peluang bagi mereka yang butuh dan ingin bekerja lebih lama, dimana jumlahnya meningkat.

Sebuah studi yang dilakukan Uni Eropa awal tahun ini mengatakan "Ekonomi Perak" harus dihubungkan dengan "identitas inklusif yang positif dan sosial untuk orang dewasa yang lebih tua".

Tapi Natasha juga tidak menutup kemungkinan anak muda jadi pekerjanya, meski ia mengatakan mereka yang berusia lanjut "cocok" untuk bisnisnya.

Menurutnya, semakin banyak pelanggan dari usia lanjut yang menginginkan saran nutrisi dan berinteraksi dengan orang-orang yang juga kesamaan.

Terkadang, itu menjadi satu-satunya percakapan yang mereka miliki.

Natasha merasa seperti menemukan emas, setelah diperkenalkan dengan Karen MacDonald.

"Ia langsung berbicara soal produk dan bisa mengidentifikasinya," katanya.

"Ia juga memiliki ibu yang sudah berusia lanjut."

"Saya langsung berpikiri, 'baiklah, ini adalah orang yang lebih tua, tapi ia bisa memasarkan produk karena benar-benar menjalani kehidupannya."

"Dari sudut pandang pemilik bisnis, ia bisa dipercaya dan diandalkan."

Marak diskriminasi usia di tempat kerja

Karen juga membawa kelebihan soal keuangan.

Ia memberi tahu Natasha soal skema milik Pemerintah Pusat Australia yang memberikan insentif kepada bisnis-bisnis yang mempekerjakan warga lanjut usia.

Program ini adalah salah satu upaya yang disiapkan untuk membantu warga lanjut usia kembali ke dunia kerja. Program ini disambut oleh kelompok-kelompok lansia.

Survei nasional baru-baru ini menemukan sepertiga pengusaha enggan mempekerjakan mereka yang sudah di atas usia tertentu. Lebih dari dua pertiganya berada di atas 50 tahun.

Bagi Karen diskriminasi berdasarkan usia di tempat kerja adalah hal yang tak masuk akal.

"Saya rasa, sebagai yang sudah tua juga, kami memiliki pengalaman ... pengetahuan yang telah dikumpulkan.

"Saya rasa kami bisa diandalkan, kami ingin bekerja."

"Kami adalah populasi yang menua. Orang-orang tidak pensiun lagi, mereka bekerja sampai usia 70-an, sampai usia 80-an. Mengapa tidak?"

"Saya rasa pintu harus terbuka dan lebih banyak pengusaha yang memikirkan mereka berusia 50 tahun ke atas. Beri mereka kesempatan yang adil."

Lebih banyak pekerja berarti lebih banyak uang

Tetapi lembaga 'Council on the Aging' khawatir anggapan soal usia masih berdampak negatif pada konsumen dan pekerja yang lebih tua.

Mereka menggelar forum kebijakan nasional yang disebut "menjaga ekonomi perak" awal tahun 2018 untuk meningkatkan kesadaran soal tantangan yang dihadapi.

"Banyak warga lansia Australia mengalami diskriminasi usia dan rentan terhadap eksploitasi, baik di tempat kerja maupun di sebagai konsumen," kata Ian Yates, Kepala Eksekutif lembaga tersebut.

"Untuk sepenuhnya memanfaatkan manfaat dan peluang dari populasi yang menua, kita harus melewati anggapan negatif untuk dapat lebih baik dalam mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan lansia Australia yang dinamis dan beragam."

Ian menyambut baik inisiatif Pemerintah Federal Australia untuk meningkatkan lapangan kerja bagi lansia, tapi ia mengatakan masih banyak yang perlu dilakukan.

Ia mengatakan memadukan kebijakan seperti yang dilakukan di Selandia Baru juga bisa dipelajari Australia.

"Di Selandia Baru, partisipasi pekerja lansia dari usia 50 tahun ke atas hingga 70 tahunan secara signifikan lebih tinggi, katanya.

"Jika partisipasi angkatan kerja dewasa usia meningkat 5 persen, perkiraannya adalah akan ada AU$ 48 miliar [lebih dari Rp 504 trilin] setahun yang disuntikkan ke dalam ekonomi Australia."

Simak laporannya dalam bahasa Inggris disini.

 
SHARES
Komentar