LaNyalla Bilang Tak Ada Alasan Menunda Bandara Lepas Pantai di Bali Utara

LaNyalla Bilang Tak Ada Alasan Menunda Bandara Lepas Pantai di Bali Utara
Ketua DPD LaNyalla Mahmud Mattalitti saat bersilaturahmi dengan masyarakat Kubutambahan. Foto: Tim DPD

jpnn.com - BULELENG- Ketua DPD RI LaNyalla Mahmud Mattalitti mendukung segera dibangunnya bandara internasional di Bali Utara.

Saat bersilaturahmi dengan para tokoh dan masyarakat Buleleng di Buleleng, Senin (19/6), LaNyalla bilang tak ada alasan menunda bandara yang akan dibangun di atas pantai atau off shore tersebut.

Menurut pria asli Bugis yang lahir di Jakarta dan besar di Surabaya itu, pembangunan bandara internasional di Bali Utara akan menjadi pengungkit perekonomian, khususnya Kabupaten Buleleng.

"Perekonomian Provinsi Bali tak bisa dilihat dari Kabupaten Badung saja. Dari data BPS, jumlah penduduk miskin terbanyak di Bali masih didominasi Kabupaten Karangasem dan Buleleng," ujar LaNyalla.

Dia sudah mendengar sendiri bahwa masyarakat dan stakeholder di Kabupaten Buleleng mendukung rencana pembangunan tersebut.

"Tingkat kepadatan Bandara Ngurah Rai di Denpasar menjadi persoalan, karena tidak memungkinkan diperluas lagi, baik runway, terminal dan kelengkapannya. Ditambah terbatasnya jalan akses dari dan ke bandara," katanya.

"Proyek ini juga tidak akan menggerus lahan pertanian produktif melalui alih fungsi lahan. Juga tidak akan menggusur sekolah, fasilitas umum, situs tempat-tempat upacara keagamaan. Ini akan menjadi bandara offshore ketiga yang ada di Asia, setelah Kansai di Jepang dan Dalian di China," imbuh LaNyalla.

"Bila melihat outlook prediksi jumlah penumpang perjalanan global yang akan mencapai lebih dari 7,8 miliar penumpang pada 2038, itu artinya Indonesia akan menjadi 4 Besar pasar penerbangan di dunia. Saya yakin, bandara internasional di Bali Utara juga akan mampu mengatasi ketimpangan ekonomi antara Bali Utara dan Bali Selatan."

Andai bandara offshore Bali Utara itu jadi, konon itu menjadi yang ketiga bersama Kansai di Jepang dan Dalian di China.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News